Tampilkan postingan dengan label alat bantu sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alat bantu sex. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2013

Harga Alat Bantu Sex Pria 2013

Harga Alat Bantu Sex Pria 2013 - Sekarang Ane mau bahas tentang daftar-daftar harga alat bantu sex 2013 yang lagi gencar-gencarnya di dunia maya atau toko online yang jual alat bantu sex.

Berikut daftar harga alat bantu sex pria


Vagina Hawaian Grils Elektrik
Harga: 500.000
Boneka Full Body Elektrik
Harga: 1.300.000

Vagina Pinggul Elektrik
Harga: 800.000

Vagina Senter Elektrik ( Baby Pussy )
Harga: 450.000


Vagina Kembang Kiss Getar
Harga: 350.000

Vagina Getar Goyang Suara
Harga: 450.000

Vagina Getar Bulu
Harga: 350.000

Vagina Pantat Elektrik
Harga: 800.000

Nah,,,,, itulah daftar-daftar harga alat bantu sex yang marak dibeli orang di dunia maya khususnya para pria yang mencari sensasi seks yang lebih nikmat.
Jika anda ingin membeli atau lihat-lihat produk dan ukuran-ukuran alat bantu tersebut silahkan langsung anda menuju ke TKP www.eka-sextoys.blogspot.com

Terima kasih anda telah sudi mampir di blog yang amburadul ini

Jumat, 31 Mei 2013

Cerita Sex - Nikmatnya Main Sex Dengan Anak Ibu Kost

Cerita Sex - Nikmatnya Main Sex Dengan Anak Ibu Kost - Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu berolahraga seminggu tiga kali. Teman-�temanku bilang, kalau aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel padaku. Aku sendiri sudah punya pacar.

Kami pacaran secara serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran tanpa batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya begitu, kalau �voltase�-ku sudah amat tinggi, aku dapat �muntah� juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan sampai dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.

Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.

lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia dikabarkan sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit dalam menyapaku.

lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan indahnya.

Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Ika sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju atas �you can see� dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.

�Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah� sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau bikin tugas,� sapa Ika dengan centilnya.

�He� masa?� balasku.

�Iya� Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,� kata Ika dengan senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak nih, he-he-he�

�Ah, neng Ika macam-macam saja�,� tanggapanku sok menjaga wibawa. �Kak Dai belum datang?�

Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya kesempatan belajar?

�Wah� dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau. Makanya carikan teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian� Tapi yang keren lho,� kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.

�Neng Ika ini� Nanti Kak Dainya ngamuk dong.�

�Kak Dai kan tidak akan tahu��

Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.

Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi. �Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina�

Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.

Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok�

Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.

�Mbak Di� Mbak Dina�,� terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku membuka pintu.

�Mbak Dina sudah pulang?� tanya Ika.

�Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada apa?�

�Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.�

�Ng� bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.�

�Beres deh mas Bob. Ika berjanji,� kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan.

Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku untuk meremas�-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si �boy-ku ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.

Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas sarjana itu.

Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.

�Mas Bob� Mas Bob�,� terdengar Ika memanggil lirih.

Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan �you can see� yang dipakai sebelumnya. Dia menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya. Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Ika menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.

�Ini kalkulatornya, Mas Bob,� kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.

�Sudah selesai. Neng Ika?� tanyaku basa-basi.

�Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?�

�0, boleh saja kalau sekiranya bisa.�

Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal potongan kayu kecil.

�Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara penyelesaiannya.� Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.

Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada Ika. Uhhh� ranum dan segarnya.

�Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?� tanyaku sambil menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan.

�Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi,� jawab Ika dengan tatapan mata yang menggoda.

Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan din?

Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.

�Mas Bob� ini benar nggak?� tanya Ika.

Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya� gumpalan daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih menekanku terasa lebih kenyal.

Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.

�Ih� Mas Bob nakal deh tangannya,� katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura menjauh.

�Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,� jawabku.

lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!

Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.

Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit terkejut ketika merasa ada yang menempel punggungnya.

�Ih� Mas Bob jangan begitu dong�,� kata Ika manja.

�Sudah� udah-udah� Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,� jawabku.

lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Ika kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-�kuluman bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku.

Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa mengeras.

�Mas Bob Mas Bob buka baju saja Mas Bob�,� rintih Ika. Tanpa menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya. Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.

Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya. Ika pun melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Ika tampak keluar dan lobang celana dalamnya.

lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.

Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.

�Ahhh� Mas Bob� Ika sudah menginginkannya dan kemarin� Gelutilah tubuh Ika� puasin Ika ya Mas Bob�,� bisik Ika terpatah-patah.

Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.

�Mas Bob� ngilu� ngilu�,� rintih Ika.

Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah.

�Aduh mas Booob� ssshh� ssshhh� ngilu mas Booob� ssshhh� geli� geli�,� cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.

Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan sekuat-kuatnya.

�Mas Booob� kamu nakal�. ssshhh� ssshhh� ngilu mas Booob� geli�� Ika tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu. Perlahan�-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Ika sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika sangat menikmati permainan ini.

Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting payudaranya.

�Au Mas Bob� shhhhh� betul� betul di situ mas Bob� di situ� enak mas� shhhh�,� Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.

Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya.

Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika. Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.

�Mas Booob� enak sekali mas Bob�,� Ika mengerang dengan kerasnya. Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena �G-spot�-nya. Dan berhasil!

�Auwww� mas Bob�!� jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.

Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Ika. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.

�Mas Bob� mas Bob� mas Bob�,� hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.

Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika sambil mengerang�-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri.

�Mas Bob� Ika sudah tidak tahan lagi� Masukin konthol saja mas Bob� Ohhh� sekarang juga mas Bob�! Sshhh. . . ,� erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap tubuhnya.

Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk� Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:

�Ah-ah-ah-ah-ah��

Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.

Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Ika mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.

Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya membeliak-�beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, �Mas Booo00oob �!� Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tanganku.

Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.

Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktikan kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.

Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus dan harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun.

Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat.

�Ah� ah� mas Bob� geli� geli �,� mulut indah Ika mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.

Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya.

�Mas Bob� hhh� geli� geli� enak� enak� ngilu� ngilu��

Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.

�Ah� mas Bob� terus mas Bob� terus� hzzz� ngilu� ngilu�� Ika mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.

Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.

�Edan� mas Bob, edan� Kontholmu besar sekali� Konthol pacan-pacanku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan� edan�,� ucapnya terkagum-kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremas�remas perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hiatnya menana kejantananku. Remasannya itu mempenhebat vohtase dam rasa nikmat pada batang kontholku.

�Mas Bob. kita main di atas kasur saja�,� ajak Ika dengan sinar mata yang sudah dikuasai nafsu binahi.

Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.

Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika. Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.

Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.

�Mas Bob� geli� geli �,� kata Ika kegelian.

Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya

dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.

�Mas Bob� mas Bob� ngilu� ngilu� hihhh� nakal sekali tangan dan mulutmu� Auw! Sssh� ngilu� ngilu�,� rintih Ika. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Ika.

Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.

�Mas Bob� masukkan seluruhnya mas Bob� masukkan seluruhnya� Mas Bob belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno� tidak mau merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia� bagai terhempas langit ke langit ketujuh. mas Bob��

Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.

�Edan� edan� kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob�,� katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.

Aku menghentikan gerak masuk kontholku.

�Mas Bob� teruskan masuk, Bob� Sssh� enak� jangan berhenti sampai situ saja�,� Ika protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.

�Sssh� sssh� enak� enak� geli� geli, mas Bob. Geli� Terus masuk, mas Bob��

Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan� satu� dua� tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!

�Auwww!� pekik Ika.

Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika tanpa bergerak sedikit pun.

�Sakit mas Bob� Nakal sekali kamu� nakal sekali kamu�.� kata Ika sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.

Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.

�Bagaimana Ika, sakit?� tanyaku

�Sssh� enak sekali� enak sekali� Barangmu besar dan panjang sekali� sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku�,� jawab Ika.

Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Ika.

Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.

�Ah� mas Bob, geli� geli� Tobat� tobat� Ngilu mas Bob, ngilu� Sssh� sssh� terus mas Bob, terus�. Edan� edan� kontholmu membuat memekku merasa enak sekali� Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja� aku sedang tidak subur��

Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.

�Ah-ah-ah� benar, mas Bob. benar� yang cepat� Terus mas Bob, terus��

Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh bagian kontholku serasa diremas�-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.

�Sssh� sssh� Ika� enak sekali� enak sekali memekmu� enak sekali memekmu��

�Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali� terusss� terus mas Bob, terusss��

Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.

�Mas Bob� mas Bob� edan mas Bob, edan� sssh� sssh� Terus� terus� Saya hampir keluar nih mas Bob�

sedikit lagi� kita keluar sama-sama ya Booob�,� Ika jadi mengoceh tanpa kendali.

Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby. Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Ika bagaikan berdenyut dengan hebatnya.

�Mas Bob� mas Bobby� mas Bobby�,� rintih Ika. Telapak tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.

lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam �mengayuh sepeda� aku merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.

�Mas Bob� ah-ah-ah-ah-ah� Enak mas Bob, enak� Ah-ah-ah-ah-ah� Mau keluar mas Bob� mau keluar� ah-ah-ah-ah-ah� sekarang ke-ke-ke��

Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa kendali:

��keluarrr�!�

Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat dalam menikmati puncak orgasmenya.

Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

�Mas Bob� kamu luar biasa� kamu membawaku ke langit ke tujuh,� kata Ika dengan mimik wajah penuh kepuasan. �Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Ika suka membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.�

Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara dia juga membayangkan kugeluti

dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot dengan penuh nafsu.

�Mas Bob� kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan� kamu perkasa� dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya��

Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang hams menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak pusing.

Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ika, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.

�Ahhh� mas Bob� kau langsung memulainya lagi� Sekarang giliranmu� semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku� Sssh�,� Ika mulai mendesis-desis lagi.

Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.

�Sssh� sssh� sssh� enak mas Bob, enak� Terus� teruss� terusss�,� desis bibir Ika di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora api birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol pun diiringi oleh suara, �srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret�� Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,

�Mas Bob� ah� mas Bob� ah� mas Bob� hhb� mas Bob� ahh��

Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Ika sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika. Sampai di langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, �Ak!� Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Ika mendesah, �Hhh��

Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-srrrt� srottt-srrrt� srottt-srrrtt� Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir Ika:

�Ak! Uhh� Ak! Hhh� Ak! Hhh��

Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:

�lka� Ika� edan� edan� Enak sekali Ika� Memekmu enak sekali� Memekmu hangat sekali� edan� jepitan memekmu enak sekali��

�Mas Bob� mas Bob� terus mas Bob rintih Ika, �enak mas Bob� enaaak� Ak! Ak! Ak! Hhh� Ak! Hhh� Ak! Hhh��

Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.

�Ika� aku� aku�� Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.

�Mas Bob� mas Bob� mas Bob! Ak-ak-ak� Aku mau keluar lagi� Ak-ak-ak� aku ke-ke-ke��

Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika, bersamaan dengan pekikan Ika, ��keluarrrr�!� Tubuh Ika mengejang dengan mata membeliak-beliak.

�Ika�!� aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak terbendung lagi.

Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek Ika terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini semprotannya lebih lemah.

Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika.

�Mas Bob� terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. indah sekali� sungguh� enak sekali,� kata Ika lirih.

Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.

Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat bibirnya beberapa saat.

�Mas Bob� kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob� Jangan khawatir, kita tanpa Ikatan. Ika akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,� begitu kata Ika.

Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku dengan tubuh yang lemas setelah main seks dengan anak ibu kost.

Rabu, 29 Mei 2013

Sebelum Bercinta Hindari 8 Makanan Ini

Sebelum Bercinta Hindari 8 Makanan Ini - Anda pasti tidak ingin terganggu di tengah acara intim bersama pasangan bukan? Maka dari itu, sebaiknya hindari makanan seperti yang dilansir dari Cosmopolitan ini sebelum bercinta!

1. Kacang-kacangan
Makanan kacang-kacangan adalah pemicu perut kembung yang bisa membuat Anda berkali-kali kentut. Jadi daripada kejadian itu Anda alami, sebaiknya hindari makan kacang-kacangan sebelum bercinta.

2. Pemanis buatan
Meskipun kalorinya rendah, pemanis buatan mengandung komposisi yang sulit dicerna yang bernama sorbitol. Sorbitol tersebut juga merupakan pemicu dari perut kembung.

3. Brokoli
Brokoli adalah sayuran sehat yang mengandung banyak antioksidan. Namun jangan menikmatinya sebelum bercinta jika tidak ingin perut menjadi kembung dan kentut berkali-kali.

4. Daging merah
 Makan malam romantis sambil menikmati steak daging bukan ide yang baik jika selanjutnya Anda berniat untuk melakukan hubungan seks. Pasalnya daging merah punya efek membuat ngantuk setelah Anda memakannya.

5. Akar manis
Meskipun akar manis adalah obat herbal alami untuk diabetes, namun makanan ini tidak cocok dinikmati sebelum Anda bercinta. Sebab akar manis mempengaruhi libido dan menurunkan gairah pada pria dan wanita yang mengonsumsinya.

6. Keju
Keju punya sifat seperti kacang-kacangan, pemanis buatan, dan brokoli. Jangan memakannya sebelum bercinta karena keju bisa membuat perut kembung dan kentut berkali-kali.

7. Alkohol
 Minum alkohol pasti membuat mabuk dan mengantuk, terutama jika Anda terlalu banyak mengonsumsinya. Jadi jangan menikmati alkohol sebelum bercinta dengan pasangan.

8. Permen karet
Memang yang satu ini bukan makanan, namun mengunyah permen karet juga tidak disarankan jika Anda akan bercinta. Pasalnya meskipun permen karet mampu menyegarkan mulut, Anda juga bisa kembung gara-gara mengunyahnya.
Itulah beberapa makanan yang sebaiknya dihindari sebelum bercinta. Pastikan Anda tidak mengonsumsinya agar aktivitas seks berjalan dengan nyaman.

Semoga 8 Tips ini membantu anda yang sedang ingin bercinta dengan pasangan.

Selasa, 21 Mei 2013

Kylie Minoque Lelang Pakaian Dalam

Sebuah pakai dalam bekas pasti akan ragu untuk membelinya, namun untuk pakaian dalam bekas dari Kylie Minogue berbeda dari yang lain. Pakaian dalam bekas ini dibeli oleh seorang pembeli misterius yang membeli barang ini dengan harga US$8.000.

Baru-baru ini Kylie Minogue telah mengadakan acara lelang, yang dilelang adalah pakaian dalamnya. Pakaian ini pernah dia gunakan di sesi pemotretan untuk kalender amal 2012 StudyVox Foundation. Target pertama harga pakaian dalam ini adalah US$6.000, namun target ini malah meleset jauh dan berhasil laku dengan harga US$8.000

Pembeli misterius ini tidak memberikan komentar sedikit pun tentang apa yang dia belinya itu. Setelah itu Kylie langsung mengucapkan terima kasih kepada pembeli misterius itu melalui akun Twitternya. �Thx to the mystery buyer!!! WOW! So thrilled and for a great cause,� tulis Kylie di akun twitternya.

Jumat, 17 Mei 2013

Cerita Dewasa Di Sore Hari

Sore itu, aku terbangun. Kulihat jam di mejaku menunjukkan pukul 4.00 sore. Iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau �melihat� tetangga sebelahku. Melalui ventilasi kulihat Mas Arif dan Mbak Nida sedang tidur-tiduran sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi terus, kulihat Mas Arif hanya memakai singlet, begitu juga Mbak Nida yang hanya memakai baju dalam.

�Dasar pengantin baru, pasti mau main, ayo kapan mainnya ?� pikirku mulai tak sabaran.

Kulihat Mas Arif dan Mbak Nida berbicara sambil berpelukan, aku kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Mbak Nida tertawa cekikikan. Beberapa kali pula aku amati Mas Arif meremas payudara Mbak Nida.

Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi juga. Tiba-tiba Mas Arif membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Nida, menyuruh Mbak Nida memegang penis Mas Arif. Mbak Nida kelihatannya menurut dan me-masukkan tangannya ke dalam celana Mas Arif, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, tampaknya Mbak Nida menolak.

�Yaaa..... itu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh karaoke� desahku dalam hati kecewa.

Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Arif tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Nida. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya akan terpenuhi.

Tak lama, Mas Arif melepas pelukannya dan Mbak Nidapun mulai melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Nida hanya bersinglet dan bercelana dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.

Kemudian mendadak Mas Arif mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya.

�Kecil sekali, dibandingkan punyaku,� kataku dalam hati melihat penis Mas Arif.

Mas Arifpun langsung meng-himpit Mbak Nida, tampaknya Mas Arif akan mempenetrasi Mbak Nida. Kulihat Mbak Nida memelorotkan celana dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Arif memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Mbak Nida yang tertutup bulu jembut. Setelah penis Mas Arif masuk keseluruhannya ke dalam pepek Mbak Nida, Mas Arif langsung memeluk Mbak Nida sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup lama.

Aku sedikit keheranan kenapa Mas Arif tidak melakukan genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya ? Mas Arif hanya diam memeluk Mbak Nida.

�Waaah.....ini pasti karena Mas Arif nggak tahan bermain lama, nggak seperti aku� kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Arif.

Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan �tumpangsari� pada Mbak Nida.

Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Nida tetap bisa mencapai orgasmenya, tetapi cepat pula Mas Arif menyusulnya. Aku me-nangkap kekecewaan di muka Mbak Nida, meski Mbak Nida berusaha tersenyum setelah �permainan� itu, tapi aku yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Arif.

*****************

Peristiwa �observasi awal� hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Nida dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Mbak Nida !

Itulah tekadku, aku mulai me-nyusun taktik. Mas Arif itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mbak Nida. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.

Siang ini aku menjumpai Toni di kantornya,
�Hai Bud, apa kabar ?� tanya Toni sambil menjabat tanganku.
�Baik� jawabku sambil ter-senyum.
�Silahkan duduk�

Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan,

�Ton, aku butuh bantuanmu�
�Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?�
�Aku butuh pekerjaan�
�Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? gaji berapa ?�
�Oh..nggak ! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain�
�Hm memangnya untuk siapa ?�
�Untuk temanku, Mas Arif, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya�
�Aneh...tapi jika itu maumu, yaa tidak apa-apa�

�Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali�
�Oke, baik kalau gitu�
�Tapi...nanti jadwal wawanca-ranya aku yang tentuin�
�Terserah kamu�

Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai jum�at dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.

Toni menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang.

Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mbak Nida itu.

Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Arif di tempat cuci, tampak Mas Arif sedang menyuci bajunya.
�Mas.......saya ingin bicara se-bentar� kataku mulai membuka percakapan.

Mas Arifpun menoleh dan menghentikan pekerjaannya.
�Ada apa Bud ?�

�Begini.......saya dengar Mas Arif mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang� jawabku panjang lebar menjelaskan. Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut tawaranku ditolak.

Lama Mas Arif kulihat terdiam, merenung, lalu

�Hmmm....saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya ?!�
�Ya Mas� kataku dengan senyuman.

Dalam hatiku, aku berpikir �Habislah sudah kesempatanku !�

Tapi setelah di dalam kamar, sekitar 2 jam kemudian aku yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Arif berdiri menunggu. Akupun cepat-cepat membuka pintu

�Wah..sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja� Mas Arif tiba-tiba permisi.
�Eee....nggak..nggak koq Mas, saya sudah bangun nih� kataku berusaha mencegah Mas Arif pergi.
�Gangguin tidur kamu nggak ?�
�Ndak...ndak kok, masuk aja� kataku mempersilahkan.
Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku,
�Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ?� Mas Arif bertanya.

�Ooo...itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya DHL, nggak jauh kok�
�Syaratnya gimana ?�
�Saya kurang tau juga tuh, Mas Arif pergi saja ke sana. temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Budi�
�Wah...kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja� Mas Arif sepertinya keberatan.
�Enggak....nggak... koq, perusa-haannya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu� kataku meya-kinkan Mas Arif.
�Hmmm...baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana ?�
�Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja� kataku me-nyarankan.

Mas Arif hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai.

*****************

Hari ini selasa, sesuai pre-diksiku, Mas Arif pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.

Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,

�Assalamu�alaikum� aku mem-beri salam.
�Wa�alaikumussalam� terdengar jawaban Mas Arif dari dalam kamarnya.

Lama baru pintu dibuka, dan Mas Arif mempersilahkanku un-tuk masuk. Kulihat di dalam ka-marnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan me-makai jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Nida tampak cantik sekali.

�Bagaimana Mas, tadi ?� ta-nyaku
�Oh...nanti saya disuruh ke sana lagi, besok untuk test wawancara�
�Alhamdulillah, tak do�ain supa-ya berhasil�
�Terima kasih�

Setelah berbasa - basi cukup lama, akupun permisi.
�Eehh...nanti dulu, kamu khan belum minum� Mas Arif berusaha mencegahku.
�Ayo Nida buatkan air minumnya dong� perintah Mas Arif me-nyuruh istrinya, Mbak Nida.

Aku menolak dengan halus,
�Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja koq, ada urusan�
�Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya�

Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Nida tidak jadi membuat minuman. Akupun pergi ke ka-marku, riang karena sebentar lagi �adikku� akan bersarang dan me-nemukan pasangannya.

*****************
Hari ini rabu, Mas Arif sudah berangkat dan meninggalkan Mbak Nida sendirian di kamarnya. Ren-cana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi Vcd pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling bagus, Vcd porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.

Kemudian sambil membawa bungkusan Vcd itu, aku menuju ke kamar tetanggaku, mengetuk pintu,

�Assalamu�alaikum� aku mem-beri salam.

Lama baru terdengar jawaban,

�Wa�alaikumussalam� jawaban Mbak Nida dari dalam kamar itu.

Pintunyapun terbuka, kulihat Mbak Nida melongokkan kepalanya yang berjilbab itu dari celah pintu,

�Ada apa ya ?� tanyanya.
�Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin tetapi lupa� kataku sambil menunjukkan bungkusan Vcd itu.
�Oh, baiklah� kata Mbak Nida sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.
�Eee...tunggu dulu Mbak, ini isinya Vcd, saya mau lihat apa bisa muter nggak di komputernya Mas Arif� kataku mengarang alasan.

Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Nida mempersi-lahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.

Di dalam kamar, aku menghi-dupkan komputer dan mengope-rasikan program Vcd playernya, lalu kumasukkan Vcd-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Vcd itu berjalan bagus.

�Mbak pingin nonton ?� tanyaku sambil melihat Mbak Nida yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.
�Film apa sih ?� tanya Mbak Nida kepadaku.
�Pokoknya bagus� jawabku sambil kemudian memberikan pe-tunjuk bagi Mbak Nida , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.

Mbak Nida hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mum-pung filmnya belum masuk ke bagian �intinya�.

Pintu kamar tetanggaku itupun kembali ditutup, aku bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Nida.

Setelah di kamarku. melalui ven-tilasi kulihat Mbak Nida menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.

Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Nida masih tetap menonton. Aku senang berarti Mbak Nida menyukainya.

Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari aku harapkan, tangan Mbak Nida pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.

�Hhh.....hhhh....oohhh.....oohhh�suara Mbak Nida mendesah�desah , tampaknya merasakan kenikmatan.

Aku kaget,

�Wah....hebat....dia masturbasi� kataku dalam hati.

Ingin aku masuk ke kamar Mbak Nida, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.

Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan memain-mainkan penisku.

Film di komputer itu terus berjalan...... hingga telah hampir 1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mbak Nida kulihat sudah empat kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Nida ternyata masih me-neruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.

�Akkkhhhhhhh.........� Mbak Nida terpekik pelan menandai orgasmenya.

Sesaat setelah orgasme Mbak Nida yang kelima akupun ejakulasi.

�Oooorghhhh.........� suara berat-ku mengiringi luapan sperma di tanganku.

Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Arif dan bisa memuaskan Mbak Nida nan-tinya karena bisa orgasme dan ejakulasi bersamaan.

Kemudian Mbak Nida sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Vcdnya dan mematikan komputer.

*****************

Setelah siang hari, Mas Arif baru pulang. Sedikit berdebar-debar aku menunggu perkem-bangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau - kalau Mbak Nida ngomong macam - macam soal Vcd itu, bisa berabe aku !

Tetapi lama.....kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali aku me-ngintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.

Begitu aku mulai mengintip, aku kaget ! Karena kulihat Mbak Nida dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Arif, mereka bersetubuh ! Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Mbak Nida kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Nida seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.

�Ah...Mas Arif nggak pandai merangsang sih�, pikirku.

Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, mem-buat Mbak Nida tidak bisa lagi men-capai orgasme dengan Mas Arif. Prediksiku, Mbak Nida akan sangat tergantung pada Vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara menghidupkan Vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesem-patanku.

*****************

Kamis, pukul 08.00. Aku bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin aku telah meng-intip Mbak Nida dan Mas Arif seharian, mereka kemarin ber-setubuh hanya dua kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Mbak Nida tidak bisa orgasme.

Malam kemarin aku juga sudah bersiap-siap dengan minum se-gelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermaku.

Pagi itu, setelah aku mandi, aku berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku, Mbak Nida yang sedang sendirian.

Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan,

�Assalamu�alaikum� aku mem-beri salam.
�Wa�alaikumussalam� suara lem-but Mbak Nida menyahut dari dalam kamar.

Mbak Nidapun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.

�Oh ya, saya lupa membe-ritahukan cara menghidupkan Vcd kemarin� kataku sambil tersenyum.

Tiba-tiba raut muka Mbak Nida menjadi sangat serius,

�Kamu kurang ajar ya, masa� ngasiin Vcd porno gituan ke Mbak� kata Mbak Nida sedikit keras.

Aku kaget, �ternyata ia marah�, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan,

�Oh ma�af Mbak, Vcdnya yang hadiah itu, isinya film soal riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, ma�af kalau tertukar, yah saya ambil saja lagi�

Mbak Nida masuk ke dalam kamarnya, ia tampak kecewa, aku senang berarti ia takut kehilangan Vcd itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka.

Mbak Nida kaget, melihatku mengikuti langkahnya,

�Eeeh...kamu kok ikut masuk juga ?!�

Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab,

�Alaa....Mbak jangan munafiklah, tokh Mbak juga menyukai Vcd porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala�
�Kurang ajar kamu ! Keluar ! Kalau tidak saya akan berteriak� bentak Mbak Nida.
�Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton Vcd itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Arif khan� kataku sambil merebut Vcd itu dan mematahkannya.

Mbak Nida terkejut,

�Kamu.....�

Tak sempat ia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya,

�Saya bersedia memberikan kepuasan kepada Mbak Nida, saya jamin Mbak Nida bisa orgasme bila main dengan saya�
�Kurang ajar ! Keluar kamu !�
�Eeee....tidak segampang itu, ayolah Mbak Nida jangan marah, pi-kirkan dulu, saya satu-satunya ke-sempatan, bila Mbak Nida tidak me-makai saya, seumur-umur Mbak Nida nggak akan pernah mencapai orgasme lagi� aku mulai meng-hasutnya.

Mbak Nida terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku, tapi...

�Tidak ! Kata Mbak tidaaak ! Sekarang keluar kamu !�

Aku gemetar, tapi tetap ber-usaha,

�Mbak sebaiknya pikirkan lagi, di sini cuma saya yang mengajukan diri memuaskan Mbak, saya satu-satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi !� kataku sedikit tegas.

Lama kulihat Mbak Nida terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah...

�Yah, sudahlah, jika Mbak tidak mau, saya pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat Mbak !� kataku sambil beranjak pergi.

Tetapi kulihat Mbak Nida hanya diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Nida, kulihat ia menangis,

�Mbak....jangan menangis, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti Mbak� kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.

Lalu pelan-pelan kupegang pun-dak Mbak Nida dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ter-nyata Mbak Nida hanya menurut saja, aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.

Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung jariku menuju ke tengah �lubang� birahinya. Aku sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali-kali.

�Akhhh.....akhhh.......ahhhhhh� desahan Mbak Nida mengiringi setiap tusukan jemariku.

Aku ingin membuatnya terang-sang dan mencapai orgasme. Lalu dengan cepat kutarik celana pan-jang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mbak Nida dengan merata. Akupun mengincar kelentit Mbak Nida yang tersembul ke luar dari bagian atas pepeknya.

Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku,

�Elmm.....mmmm.......emmmm� dan lidahku menari-nari di atasnya, terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali,
�Akhh....ooohhhh......aaahhhhh� suara Mbak Nida mendesah kuat tanda terangsang.

Jemari tanganku semakin kuper-cepat menusuk pepek Mbak Nida dan lidahku makin menggila menari-nari di atas kelentitnya yang berwarna merah jambu itu.

Perlahan kubimbing Mbak Nida mencapai puncaknya, hingga akhirnya......

�Aaaaaaakkkhhhhhh............� pekikan pelan Mbak Nida mengiringi orgasmenya.

Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan vagina Mbak Nida yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium bau khas cairan vagina wanita yang orgasme.

Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Nida mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat,

�Ahhh....ahhhh....yaah.....yaahh� suara Mbak Nida mulai meracau.

Sementara tangan kiriku beroperasi di vagina Mbak Nida, tangan kananku mulai meremas blus Mbak Nida, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Mbak Nida yang indah membukit.

Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas payudara Mbak Nida bergantian,

�Slurrpp....slrrrrpp.....slluuurpp� aku menghisap puting Mbak Nida, sementara desahan Mbak Nida terdengar halus di telingaku,

�Akhh....teruuss.....teruuusss� Sementara tangan kiriku tetap beraksi di vagina Mbak Nida, dan vagina itu semakin becek,
�Crrtt.....crrtt......slrrpp�

Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Nida yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Mbak Nida sedikit kaget,

�Ohhh....oomlmmm...elmmmm� Mbak Nida tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang menari-nari.

Aku memang berusaha mem-bimbing Mbak Nida agar orgasme untuk kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa me-masukkan penisku, mempenetrasi vaginanya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran penisku lebih besar dari punya Mas Arif yang biasa masuk.

Sambil mencium dan merang-sang pepek Mbak Nida, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melem-parkannya ke lantai. Tangan kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.

Lama akhirnya Mbak Nida mencapai orgasmenya yang kedua kali,

�Ooorrggghhhhh...........�

Mbak Nida mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung menusukkan penisku pelan-pelan ke dalam vaginanya.

�Aaaaaahhhhh............� suara Mbak Nida terpekik, matanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.

Akupun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mbak Nida dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan lama kelamaan men-jadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,

�Sllrrttt...cccrrttt....ccrrplpp� suara becek itu terus berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.

�Akhhh....yaaahh...terus...� suara desahan Mbak Nida keenakan. Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya ku-sandarkan di pundakku, pinggul Mbak Nida sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku ber-ulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Mbak Nida yang indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.

�Ahhh.....ahhh....aaahhh�
�Ohhh......ohhhh........hhhh�

Suara desahanku dan Mbak Nida terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.

Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Nida, badannya kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara penisku dan vaginanya masih menyatu.

Tanganku memegang pinggul Mbak Nida, membantunya badannya untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan segar yang ber-senggayut dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua. Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan menciumnya ber-gantian.

Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama.....

�Oooohhhhhhh.................� lenguhan panjang Mbak Nida menandai orgasmenya, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi.

Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Mbak Nida dan Mbak Nida juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman dengan mesra, oh indahnya.

Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Nida ternyata menangis !

�Kenapa Mbak Nida ? saya me-nyakiti Mbak ya ?!� tanyaku lembut penuh sesal.

Masih terisak, Mbak Nida menjawab,

�Ah.....nggak, kamu justru telah membuat Mbak bahagia�

Kami berdua tersenyum, ke-mudian pelan aku baringkan Mbak Nida. Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali.

Sambil meremas kedua payu-daranya, aku membolak-balikkan badan Mbak Nida ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,

�Ahhh.....ahhh....aaahhh�
�Ohhh......ohhhh........hhhh�

Terus....lama, hingga akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.

Aku ingin melakukannya ber-sama dengan Mbak Nida. Untuk itu aku memeluk Mbak Nida, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena perlahan Mbak Nida kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.

Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mbak Nida,

�Tahan......tahan.........Mbak, kita lakukan bersama-sama ya�

�Ohhh...ohhh....ohhhh.....aku su-dah tak tahan lagi� desah Mbak Nida, kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.

�Pelan.....pelan saja Mbak, kita lakukan serentak� kataku membisik sambil kupelankan tusukan penisku.

Akhirnya yang kuinginkan ter-jadi, urat-urat syarafku menegang, penisku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.

�Akhhh....ooohhh....ohhh� suara Mbak Nida mendesah. Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan penisku.

�Lepaskan.....lepaskan......Mbak, sekarang !� suaraku mengiringi de-sahan Mbak Nida, Mbak Nida menuruti �saranku�, diapun akhirnya mele-paskan orgasmenya,

�Aaaakkhhhhh............�

�Ooorggghhhhh.........� suara be-rat menandakan ejakulasiku, meng-iringi orgasme Mbak Nida. Erat ku-peluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu kulakukan.

Setelah �permainan� itu, dalam keadaan bugil aku tiduran ter-lentang di samping Mbak Nida yang juga telanjang. Mbak Nida me-melukku dan mencium pipiku berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku,

�Terima kasih Bud�

Mbak Nida kulihat senang dan memeluk tubuhku erat, tertidur di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Aku sedih dan me-nyesal melakukan ini dengan Mbak Nida, aku takut ia tidak akan pernah lagi mencapai orgasme selain de-ngan diriku, ini berarti aku me-nyengsarakan Mbak Nida.

Selasa, 14 Mei 2013

Fakta Dibalik Film Porno - Film Dewasa

Film Porno?Pasti sudah tidak asing lagi kata tersebut. Sebenarnya ada sesuatu yang unik dibalik pembuatan film Porno. Apakah itu?coba sobat semua baca postingan tips seks kali ini. Pasti anda tidak tahu mengenai fakta dibalik pembuatan film porno yang selama ini sobat tonton. Berikut fakta unik tersebut.

1. Artis porno 95% berbohong kalo mereka bilang menikmati pembuatan film bokep yg mereka peranin. Meski artis wanita bisa dibayar 10x lipat dari pemeran pria tp dalam proses pembuatan film porno bisa berlangsung 18 jam sehari untuk menghemat budget dan dalam sehari mereka bisa shoting utk 3 s/d 4 scene berbeda.

2. Setiap scene nya bisa berlangsung berjam-jam tergantung dari apa aktornya bisa �tampil� sesuai dengan harapan sang sutradara atau apa si artis yg harus istirahat dulu karena rasa sakit saat melakukan adegan hardcore. Seperti adegan anal sex yg seringkali harus dihentikan karena ada yg seharusnya gk boleh tampil

3. Saat menunggu scene berikutnya biasanya artis porno menghabiskan waktu di restroom utk minum minuman keras atau pake narkoba biar bisa ngurangin rasa malu dan sakit dalam adegan berikutnya. Untuk diketahui di industri film porno test yg wajib dilakukan utk tiap aktor & artis adalah test HIV (sebulan sekali) sedangkan test drugs tdk ada.

4. Situasi saat shooting film porno sangat menyiksa baik secara fisik maupun mental khususnya utk artis wanita karena 12 � 18 orang berdiri dibalik layar mulai dari sutradara & asistennya, fans berat yg dapet hadiah nonton langsung sampai tukang lampu dan fotografer yg punya hak utk mem �freeze� adegan tertentu agar bisa diambil angle foto yg terbaik.

5. Artis porno adalah pembohong profesional karena kalau mereka menceritakan kenyataan sebenernya maka hancurlah fantasi yg ada di tiap kepala ngeres para penggemar dan sekaligus menghancurkan karir �indah� mereka. Dan disinilah ironisnya karena udah terbiasa bohong para artis film bokep biasanya malah punya kemampuan akting yg lebih baik dari kebanyakan bintang hollywood.

6. Sepanjang tahun 2007 9 bintang film porno meninggal karena HIV

7. 66% bintang bokep menderita herpes dan sekitar 12-28% menderita penyakit menular seksual lainnya.

8. Sejak tahun 1990 sudah ada 26 bintang porno mati bunuh diri.

9. Sejak tahun 1990 ada 45 bintang porno meninggal akibat overdosis narkoba

10. Lebih dari 90 orang bintang porno positif HIV, 25 org masih bertahan hidup.

11. Antara tahun 2003 sd 2005, 976 bintang film porno dilaporkan positif menderita penyakit menular seksual.

Rabu, 08 Mei 2013

Vagina Getar Goyang Suara Alat Bantu Sex Pria

VAGINA GETAR GOYANG SUARA SILICON ELECTRIC
Produk VAGINA ini Terbuat dari bahan silicon pilihan yang lembut dan berkualitas sehingga tidak menimbulkan penyakit dan iritasi pada kulit. dapat di gunakan berulang-ulang dan di bersihkan dengan mudah.
UKURAN :
panjang : 30cm
diameter : 12cm
berat 1, 5kg.
megunakan batre AAA X4.
VAGINA dapat bergoyang, bergetar, bersuara rintihan dilengkapi dengan remot untuk mengatur frekensi sesuai kebutuhan.
Produk ini di ciptakan untuk mendapatkan sensasi yang lebih bagi para peria dewasa dalam bermain sendiri( onani) .
paket VAGINA di lengkapi sebotol pelicin sebagai cairan untuk vagina.
produk VAGINA ini sering juga di gunakan para peria yang tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan intim( sex) dengan pasanganya, untuk menghindari perselingkuhan. Menjaga keharmonisan pasutri.
dengan bentuk yang sedemikian bagus dan bergengsi ini produk dapat di gunakan sebagai hadiah ( kado) untuk teman anda
Hindarkan peminjaman produk untuk mencegah penyakit dan hal-hal yang tidak di inginkan
VAGINA GETAR GOYANG SUARA SILICON ELECTRIC
Negara Asal : JEPANG

Info pemesanan bisa hubungi: 081325664611 pin bb 29F7FDAE
anda bisa kunjungi http://www.agenalatbantu.com/

Cerita Sex - Asyiknya Bercinta Dengan Ayah Mertua

Nama aku Indah dan berumur 19 tahun. Sudah 1 tahun aku bernikah dengan seorang lelaki yang bernama Anang . Aku masih tidak dikurniakan dengan cahaya mata. Suamiku Anang ialah seorang ahli perniagaan. Dia sering outstation. Aku sering di rumah keseorangan. Bapa mertuaku sering mengunjungi rumahku. Kebiasaannya dia datang semasa suamiku di rumah.

Pada suatu petang Bapa mertuaku berkunjung semasa Anang pergi outstation. Bapa saja nak tengok kaulah Nab jawab bapa mertuaku ku. Selepas makan bapa mertuakuku berehat di hall. Sewaktu itu bapa mertuaku memakai kain sarong saja. Sambil berbual bual terselak kain bapa mertuaku aku. Aku ternampak anu bapa mertuaku ku. Bapa mertuaku buat tak tau saja. Anu bapa mertuaku nampaknya berada di dalam keadaan yang sungguh tegang. Itulah yang membuat ku tak dapat nak control nafsu. Lebih lebih lagi aku baru saja bersih dari darah bulan dan tak sempat didatangi oleh suami ku. Sungguh mendidih darah ku pada waktu itu.
Aku rasa anu bapa mertuaku tu jadi tegang sebab dia asyik perhatikan pakaian ku. Aku hanya mengenakan pakaian gown malam tanpa apa apa pun di dalam, maklumlah cuaca begitu panas. Saiz buah dadaku yang berukuran 36D sudah pasti telah mencuit hati bapa mertuaku. Patutlah semasa aku menghidangkan makanan, bapa mertuaku asyik merenungi lurah di gown ku.
Dengan tidak dapat menahan nafsu, aku terus menuju ke bilikku dan meninggalkan bapa mertuaku di hall untuk menonton berita jam lapan. Desakan nafsu ku yang meluap luap itu telah telah menyebabkan aku kelam kabut mengejar tilam untuk segera melayan denyutan kelentit ku. Setiba di dalam bilik, aku pun terus humbankan badan di katil dan aku selak gaun tidor ku hingga ke paras dada. Kesemua bahagian di bawah paras dada ku terdedah tanpa seurat benang.
Aku mengangkang seluas yang mungkin dan mulalah bermain dengan biji kelintit ku. Alangkah bahagianya kalau Anang mempunyai konek begitu besar seperti bapa mertuaku ku. Aku terus leka dibuai hayalan yang sebegitu rupa. Rupa rupanya pintu bilik ku tadi bukan saja tidak ku kunci malahan ianya ternganga luas. Tanpa ku sedari, bapa mertuaku aku telah mengekori jejak perjalanan ku ke dalam bilik. Ketika aku sedang leka melayani denyutan nafsu, dia dengan jelasnya dapat mengintai segala tingkah laku aku. 15 minit kemudian, aku terdengar suara bapa mertuaku ku memanggil manggil nama ku. Laungan tersebut telah menyekat kemaraan nafsu ku. Pantas aku mengalihkan pandangan ke arah pintu bilek. Berderau darah ku melihatkan bapa mertuaku ku sedang berdiri di situ. Sebatang tubuh lelaki tua yang berkulit hitam legam sedang bertelanjang bulat di situ.
Tangan kanannya sedang kemas mengenggam anunya yang sudah keras terpacak. Aku amat pasti bahawa lelaki itu ialah bapa mertuaku aku sendiri. Aku berkeadaan serba terkejut. Aku jadi kaku dan buntu dengan tanganku masih lagi melekat pada menjari kelentit ku. Pantas dia bertindak untuk meraih kesempatan terhadap kebinggungan ku itu. Dia terus menerpa dan mencelapak kangkangku yang sudah sedia terbuka luas.
Mulutnya pula telah berjaya menyusukan puting tetek ku. Tangan ku yang tadinya melindungi kangkang ku, kini segera beralih ke arah tetek ku untuk menyekat perbuatannya itu. Sebaik saja itu berlaku, anu bapa mertuaku aku pun mudahlah menyelinapkan zina ke dalam tubuh ku. Tangan ku cuba untuk menyekat kemaraan anunya. Namun tangan bapa mertuaku ku segera memantau pergerakkan tangan ku.
Akhirnya terpaksalah aku berbaring mengangkang sebegitu saja tanpa sebarang upaya untuk mempamirkan tentangan. Melihatkan keadaan ku yang sudah pasrah, maka dia pun mulalah menghenjut ku dengan rakus. Dari gelagat keganasannya itu, jelaslah bahawa selama ini dia memang geram terhadap kangkang aku. Bebanan dendam nafsunya bagaikan sulaan yang giat menghukumi tapak zuriat ku yang subur itu. Akal ku cuba agar tidak memperindahkan kesedapan anu bapa mertuaku aku tu. Namun nafsu ku sukar untuk menafikan keinginan terhadap anu bapa mertuaku ku.
Kehadirannya di dalam perut ku amat ketara ku rasakan. Malahan kesan penangan yang sebegitulah yang selama ini ku berahikan. Semakin lama semakin pasrah aku zahir dan batin. Seluruh jiwa raga ku mulai kecundang terhadap tuntutan zina yang maha sedap itu. Tanpa segan silu mulutku tak putus putus merengetkan bahasa nafsu. Pengakuan tentang kehebatan anu bapa mertuaku aku tu sentiasa meniti di bibirku. Hitungan dosa dan penyesalan telah ku humban jauh dari pertimbangan ku.
Bapa mertuaku aku pula sejak dari awal awal tadi begitu tekun membajak telaga bunting ku. Kesuburan ladang zuriat aku digemburi dengan sebaik mungkin. Jelaslah bahawa suami ku sendiri gagal menandingi kemampuan bapa mertuaku aku. Mungkin sebab itulah dia gagal menghamilkan aku. Setelah cukup rata membajak, maka bapa mertuaku aku pun mulalah menyemburkan benih zuriatnya ke dalam perut aku. Terbeliak biji mataku mengharungi kesedapan setiap pancutan yang dilakukannya.
Kepanasan cecair benih bapa mertuaku aku tu ku sambut dengan ledakan nafsu ku sendiri. Mengelupur seluruh tubuh ku untuk menikmati tadahan benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai di dalam rahim ku. Selepas itu kami sama sama terdampar keletihan setelah mengharungi kepuasan bersama. Bertelanjang bulat kami tidur berpelukan hingga ke pagi. Tengahhari esoknya sekali lagi bapa mertuaku ku menyemai benih yang mampu membuncitkan perut aku.
Kali ini dia menghenjut aku bagi tempoh yang lebih lama dari semalam. Malahan cecair benihnya juga adalah lebih lebat lagi. Hampir seminit aku terpaksa menadah perahan nafsunya. Ketika itulah juga talipon berdering. Aku tau ianya adalah panggilan dari suami ku. Namun kesedapan yang sedang ku nikmati itu telah mendesak aku supaya terus memerah saki baki air benih bapa mertuaku aku tu. Setelah pasti segalanya sudah kering, maka barulah aku bertindak untuk mencapai gagang talipon. Dengan bertelanjang bulat aku berkejar ke ruang tamu. Itu pun setelah lebih seminit ianya berdering. bapa mertuaku aku juga turut mengekori dari belakang dan dengan juga tanpa seurat benang.
Aku berdiri sambil berbual dengan suami ku. Ketika itu jugalah air mani bapa mertuaku aku mula meleleh membasahi peha ku. Lopak air mani yang terkumpul pada pangkal peha ku pula adalah lebih ketara. Saki baki kehangatannya juga masih lagi terasa. Baunya pula cukup kuat hinggakan aku yang sedang berdiri pun boleh menghidunya. Suami ku memberitahu bahawa dia akan terus ke Sarawak dan akan berada di sana selama sebulan setengah. Bapa mertuaku aku bukan main meleret senyumannya apabila dengarkan kabar tersebut.
Aku pula jadi serba salah kerana selama tempoh itu kelak aku akan bakal ditiduri oleh seorang lelaki tua yang hitam legam lagi tidak kacak. Memang pun selama tempoh tersebut bapa mertuaku aku tu telah kerjakan aku dengan secukup cukupnya. Malahan aku terbelenggu di bawah kongkongannya. Dia benar benar marah apabila aku meminta izin untuk ke klinik bagi mendapatkan pil pencegah kehamilan. Aku tergamam kerana bapa mertuaku aku memang berhasrat untuk membiarkan aku menanggung bunting melalui penzinaan kami itu.
Mulai saat itu, bapa mertuaku aku tidak lagi membenarkan aku keluar rumah. Kesangsiannya memang tepat. Jika berpeluang memang pasti aku akan ke klinik bagi tujuan yang bertentangan dengan kehendaknya. Untuk memastikan hajat aku tidak tercapai, bapa mertuaku aku telah merampas kesemua pakaian aku dan menyimpannya di dalam tempat yang terkunci rapi.
Ianya termasuklah kasut, setokin dan tuala. Oleh kerana tidak lagi memiliki sebarang pakaian, maka terpaksalah aku berbogel sehari suntuk. Bila selalu tubuh muda aku terpamir, maka selalulah anu tua nya tu keras menegang. Memang tak sempat kering bulu kangkang ku, kerapnya dia menyemai benih budak ke dalam perut aku.
Walaupun aku tidak rela menagggung akibatnya, namun aku mulai menagihi cetusan nikmat yang maha hebat itu. Akhirnya genap sebulan berlalu, dan bapa mertuaku aku tersenyum gembira sambil mengosok gosok perut ku. Beberapa bulan kemudian aku mulai muntah muntah. Tak lama selepas itu kesan membuncit di perut ku semakin ketara. Budak yang membesar di dalam perut ku itu adalah bukti penghasilan zina yang amat jelas.
Dari masa ke masa, terutama ketika suami ku kerja oustation, pasti bapa mertuaku ku datang menemani tidur ku. Semakin buncit perut aku, semakin bernafsu dia terhadap aku. Rupa rupanya dia memang jenis yang cenderung mendatangi wanita bunting. Memang masa tu aku kena penangan yang lebih teruk lagi dari sebelumnya. Kangkang aku pun sampai terasa sengal dan melecup dibuatnya.
Namun semakin teruk semakin gila kocakan nafsu ku sendiri. Sedang dia rancak menhenjut aku, dia sempat berjanji untuk berusaha memastikan aku bunting lagi selepas bersalin nanti. Masa tengah sedap tu aku bagaikan kerbau ditarik hidung saja. Aku mengangguk angguk kepala sebagai tanda menyetujuinya. Setelah agak lama merasai penangan yang sebegitu hebat, tentulah aku gagal puas dengan aksi suami ku sendiri.
Hanya kehadiran bapa mertuaku ku saja yang mampu menjanjikan kepuasan mutlak. Terutama jika ku di dalam keadaan berbadan dua. burit aku kini dipenuh benih nya. lubang burit ku kini luas namum bapak mertua tidak puas merodoknya. ni no ht aku xxx xxxxx (nombor betul aku) aku ingin bermain tiga batang pelir sekali, di jubur, burit dan mulut sekali.

Nama aku Indah dan berumur 18 tahun. Sudah 1 tahun aku bernikah dengan seorang lelaki yang bernama Anang. Aku masih tidak dikurniakan dengan cahaya mata. Suamiku Anang ialah seorang ahli perniagaan. Dia sering outstation. Aku sering di rumah keseorangan. Bapa mertuaku sering mengunjungi rumahku. Kebiasaannya dia datang semasa suamiku di rumah.
Pada suatu petang Bapa mertuaku berkunjung semasa Anang pergi outstation. Bapa saja nak tengok kaulah Nab jawab bapa mertuaku ku. Selepas makan bapa mertuakuku berehat di hall. Sewaktu itu bapa mertuaku memakai kain sarong saja. Sambil berbual bual terselak kain bapa mertuaku aku. Aku ternampak anu bapa mertuaku ku. Bapa mertuaku buat tak tau saja. Anu bapa mertuaku nampaknya berada di dalam keadaan yang sungguh tegang. Itulah yang membuat ku tak dapat nak control nafsu. Lebih lebih lagi aku baru saja bersih dari darah bulan dan tak sempat didatangi oleh suami ku. Sungguh mendidih darah ku pada waktu itu.
Aku rasa anu bapa mertuaku tu jadi tegang sebab dia asyik perhatikan pakaian ku. Aku hanya mengenakan pakaian gown malam tanpa apa apa pun di dalam, maklumlah cuaca begitu panas. Saiz buah dadaku yang berukuran 36D sudah pasti telah mencuit hati bapa mertuaku. Patutlah semasa aku menghidangkan makanan, bapa mertuaku asyik merenungi lurah di gown ku.
Dengan tidak dapat menahan nafsu, aku terus menuju ke bilikku dan meninggalkan bapa mertuaku di hall untuk menonton berita jam lapan. Desakan nafsu ku yang meluap luap itu telah telah menyebabkan aku kelam kabut mengejar tilam untuk segera melayan denyutan kelentit ku. Setiba di dalam bilik, aku pun terus humbankan badan di katil dan aku selak gaun tidor ku hingga ke paras dada. Kesemua bahagian di bawah paras dada ku terdedah tanpa seurat benang.
Aku mengangkang seluas yang mungkin dan mulalah bermain dengan biji kelintit ku. Alangkah bahagianya kalau Anang mempunyai konek begitu besar seperti bapa mertuaku ku. Aku terus leka dibuai hayalan yang sebegitu rupa. Rupa rupanya pintu bilik ku tadi bukan saja tidak ku kunci malahan ianya ternganga luas. Tanpa ku sedari, bapa mertuaku aku telah mengekori jejak perjalanan ku ke dalam bilik. Ketika aku sedang leka melayani denyutan nafsu, dia dengan jelasnya dapat mengintai segala tingkah laku aku. 15 minit kemudian, aku terdengar suara bapa mertuaku ku memanggil manggil nama ku. Laungan tersebut telah menyekat kemaraan nafsu ku. Pantas aku mengalihkan pandangan ke arah pintu bilek. Berderau darah ku melihatkan bapa mertuaku ku sedang berdiri di situ. Sebatang tubuh lelaki tua yang berkulit hitam legam sedang bertelanjang bulat di situ.
Tangan kanannya sedang kemas mengenggam anunya yang sudah keras terpacak. Aku amat pasti bahawa lelaki itu ialah bapa mertuaku aku sendiri. Aku berkeadaan serba terkejut. Aku jadi kaku dan buntu dengan tanganku masih lagi melekat pada menjari kelentit ku. Pantas dia bertindak untuk meraih kesempatan terhadap kebinggungan ku itu. Dia terus menerpa dan mencelapak kangkangku yang sudah sedia terbuka luas.
Mulutnya pula telah berjaya menyusukan puting tetek ku. Tangan ku yang tadinya melindungi kangkang ku, kini segera beralih ke arah tetek ku untuk menyekat perbuatannya itu. Sebaik saja itu berlaku, anu bapa mertuaku aku pun mudahlah menyelinapkan zina ke dalam tubuh ku. Tangan ku cuba untuk menyekat kemaraan anunya. Namun tangan bapa mertuaku ku segera memantau pergerakkan tangan ku.
Akhirnya terpaksalah aku berbaring mengangkang sebegitu saja tanpa sebarang upaya untuk mempamirkan tentangan. Melihatkan keadaan ku yang sudah pasrah, maka dia pun mulalah menghenjut ku dengan rakus. Dari gelagat keganasannya itu, jelaslah bahawa selama ini dia memang geram terhadap kangkang aku. Bebanan dendam nafsunya bagaikan sulaan yang giat menghukumi tapak zuriat ku yang subur itu. Akal ku cuba agar tidak memperindahkan kesedapan anu bapa mertuaku aku tu. Namun nafsu ku sukar untuk menafikan keinginan terhadap anu bapa mertuaku ku.
Kehadirannya di dalam perut ku amat ketara ku rasakan. Malahan kesan penangan yang sebegitulah yang selama ini ku berahikan. Semakin lama semakin pasrah aku zahir dan batin. Seluruh jiwa raga ku mulai kecundang terhadap tuntutan zina yang maha sedap itu. Tanpa segan silu mulutku tak putus putus merengetkan bahasa nafsu. Pengakuan tentang kehebatan anu bapa mertuaku aku tu sentiasa meniti di bibirku. Hitungan dosa dan penyesalan telah ku humban jauh dari pertimbangan ku.
Bapa mertuaku aku pula sejak dari awal awal tadi begitu tekun membajak telaga bunting ku. Kesuburan ladang zuriat aku digemburi dengan sebaik mungkin. Jelaslah bahawa suami ku sendiri gagal menandingi kemampuan bapa mertuaku aku. Mungkin sebab itulah dia gagal menghamilkan aku. Setelah cukup rata membajak, maka bapa mertuaku aku pun mulalah menyemburkan benih zuriatnya ke dalam perut aku. Terbeliak biji mataku mengharungi kesedapan setiap pancutan yang dilakukannya.
Kepanasan cecair benih bapa mertuaku aku tu ku sambut dengan ledakan nafsu ku sendiri. Mengelupur seluruh tubuh ku untuk menikmati tadahan benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai di dalam rahim ku. Selepas itu kami sama sama terdampar keletihan setelah mengharungi kepuasan bersama. Bertelanjang bulat kami tidur berpelukan hingga ke pagi. Tengahhari esoknya sekali lagi bapa mertuaku ku menyemai benih yang mampu membuncitkan perut aku.
Kali ini dia menghenjut aku bagi tempoh yang lebih lama dari semalam. Malahan cecair benihnya juga adalah lebih lebat lagi. Hampir seminit aku terpaksa menadah perahan nafsunya. Ketika itulah juga talipon berdering. Aku tau ianya adalah panggilan dari suami ku. Namun kesedapan yang sedang ku nikmati itu telah mendesak aku supaya terus memerah saki baki air benih bapa mertuaku aku tu. Setelah pasti segalanya sudah kering, maka barulah aku bertindak untuk mencapai gagang talipon. Dengan bertelanjang bulat aku berkejar ke ruang tamu. Itu pun setelah lebih seminit ianya berdering. bapa mertuaku aku juga turut mengekori dari belakang dan dengan juga tanpa seurat benang.
Aku berdiri sambil berbual dengan suami ku. Ketika itu jugalah air mani bapa mertuaku aku mula meleleh membasahi peha ku. Lopak air mani yang terkumpul pada pangkal peha ku pula adalah lebih ketara. Saki baki kehangatannya juga masih lagi terasa. Baunya pula cukup kuat hinggakan aku yang sedang berdiri pun boleh menghidunya. Suami ku memberitahu bahawa dia akan terus ke Sarawak dan akan berada di sana selama sebulan setengah. Bapa mertuaku aku bukan main meleret senyumannya apabila dengarkan kabar tersebut.
Aku pula jadi serba salah kerana selama tempoh itu kelak aku akan bakal ditiduri oleh seorang lelaki tua yang hitam legam lagi tidak kacak. Memang pun selama tempoh tersebut bapa mertuaku aku tu telah kerjakan aku dengan secukup cukupnya. Malahan aku terbelenggu di bawah kongkongannya. Dia benar benar marah apabila aku meminta izin untuk ke klinik bagi mendapatkan pil pencegah kehamilan. Aku tergamam kerana bapa mertuaku aku memang berhasrat untuk membiarkan aku menanggung bunting melalui penzinaan kami itu.
Mulai saat itu, bapa mertuaku aku tidak lagi membenarkan aku keluar rumah. Kesangsiannya memang tepat. Jika berpeluang memang pasti aku akan ke klinik bagi tujuan yang bertentangan dengan kehendaknya. Untuk memastikan hajat aku tidak tercapai, bapa mertuaku aku telah merampas kesemua pakaian aku dan menyimpannya di dalam tempat yang terkunci rapi.
Ianya termasuklah kasut, setokin dan tuala. Oleh kerana tidak lagi memiliki sebarang pakaian, maka terpaksalah aku berbogel sehari suntuk. Bila selalu tubuh muda aku terpamir, maka selalulah anu tua nya tu keras menegang. Memang tak sempat kering bulu kangkang ku, kerapnya dia menyemai benih budak ke dalam perut aku.
Walaupun aku tidak rela menagggung akibatnya, namun aku mulai menagihi cetusan nikmat yang maha hebat itu. Akhirnya genap sebulan berlalu, dan bapa mertuaku aku tersenyum gembira sambil mengosok gosok perut ku. Beberapa bulan kemudian aku mulai muntah muntah. Tak lama selepas itu kesan membuncit di perut ku semakin ketara. Budak yang membesar di dalam perut ku itu adalah bukti penghasilan zina yang amat jelas.
Dari masa ke masa, terutama ketika suami ku kerja oustation, pasti bapa mertuaku ku datang menemani tidur ku. Semakin buncit perut aku, semakin bernafsu dia terhadap aku. Rupa rupanya dia memang jenis yang cenderung mendatangi wanita bunting. Memang masa tu aku kena penangan yang lebih teruk lagi dari sebelumnya. Kangkang aku pun sampai terasa sengal dan melecup dibuatnya.
Namun semakin teruk semakin gila kocakan nafsu ku sendiri. Sedang dia rancak menhenjut aku, dia sempat berjanji untuk berusaha memastikan aku bunting lagi selepas bersalin nanti. Masa tengah sedap tu aku bagaikan kerbau ditarik hidung saja. Aku mengangguk angguk kepala sebagai tanda menyetujuinya. Setelah agak lama merasai penangan yang sebegitu hebat, tentulah aku gagal puas dengan aksi suami ku sendiri.
Hanya kehadiran bapa mertuaku ku saja yang mampu menjanjikan kepuasan mutlak. Terutama jika ku di dalam keadaan berbadan dua. burit aku kini dipenuh benih nya. lubang burit ku kini luas namum bapak mertua tidak puas merodoknya. ni no ht aku xxx xxxxx (nombor betul aku) aku ingin bermain tiga batang pelir sekali, di jubur, burit dan mulut sekali.