Sore itu, aku terbangun. Kulihat jam di mejaku menunjukkan pukul 4.00 sore. Iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau �melihat� tetangga sebelahku. Melalui ventilasi kulihat Mas Arif dan Mbak Nida sedang tidur-tiduran sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi terus, kulihat Mas Arif hanya memakai singlet, begitu juga Mbak Nida yang hanya memakai baju dalam.
�Dasar pengantin baru, pasti mau main, ayo kapan mainnya ?� pikirku mulai tak sabaran.
Kulihat Mas Arif dan Mbak Nida berbicara sambil berpelukan, aku kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Mbak Nida tertawa cekikikan. Beberapa kali pula aku amati Mas Arif meremas payudara Mbak Nida.
Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi juga. Tiba-tiba Mas Arif membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Nida, menyuruh Mbak Nida memegang penis Mas Arif. Mbak Nida kelihatannya menurut dan me-masukkan tangannya ke dalam celana Mas Arif, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, tampaknya Mbak Nida menolak.
�Yaaa..... itu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh karaoke� desahku dalam hati kecewa.
Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Arif tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Nida. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya akan terpenuhi.
Tak lama, Mas Arif melepas pelukannya dan Mbak Nidapun mulai melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Nida hanya bersinglet dan bercelana dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.
Kemudian mendadak Mas Arif mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya.
�Kecil sekali, dibandingkan punyaku,� kataku dalam hati melihat penis Mas Arif.
Mas Arifpun langsung meng-himpit Mbak Nida, tampaknya Mas Arif akan mempenetrasi Mbak Nida. Kulihat Mbak Nida memelorotkan celana dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Arif memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Mbak Nida yang tertutup bulu jembut. Setelah penis Mas Arif masuk keseluruhannya ke dalam pepek Mbak Nida, Mas Arif langsung memeluk Mbak Nida sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup lama.
Aku sedikit keheranan kenapa Mas Arif tidak melakukan genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya ? Mas Arif hanya diam memeluk Mbak Nida.
�Waaah.....ini pasti karena Mas Arif nggak tahan bermain lama, nggak seperti aku� kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Arif.
Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan �tumpangsari� pada Mbak Nida.
Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Nida tetap bisa mencapai orgasmenya, tetapi cepat pula Mas Arif menyusulnya. Aku me-nangkap kekecewaan di muka Mbak Nida, meski Mbak Nida berusaha tersenyum setelah �permainan� itu, tapi aku yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Arif.
*****************
Peristiwa �observasi awal� hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Nida dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Mbak Nida !
Itulah tekadku, aku mulai me-nyusun taktik. Mas Arif itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mbak Nida. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.
Siang ini aku menjumpai Toni di kantornya,
�Hai Bud, apa kabar ?� tanya Toni sambil menjabat tanganku.
�Baik� jawabku sambil ter-senyum.
�Silahkan duduk�
Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan,
�Ton, aku butuh bantuanmu�
�Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?�
�Aku butuh pekerjaan�
�Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? gaji berapa ?�
�Oh..nggak ! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain�
�Hm memangnya untuk siapa ?�
�Untuk temanku, Mas Arif, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya�
�Aneh...tapi jika itu maumu, yaa tidak apa-apa�
�Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali�
�Oke, baik kalau gitu�
�Tapi...nanti jadwal wawanca-ranya aku yang tentuin�
�Terserah kamu�
Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai jum�at dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.
Toni menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang.
Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mbak Nida itu.
Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Arif di tempat cuci, tampak Mas Arif sedang menyuci bajunya.
�Mas.......saya ingin bicara se-bentar� kataku mulai membuka percakapan.
Mas Arifpun menoleh dan menghentikan pekerjaannya.
�Ada apa Bud ?�
�Begini.......saya dengar Mas Arif mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang� jawabku panjang lebar menjelaskan. Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut tawaranku ditolak.
Lama Mas Arif kulihat terdiam, merenung, lalu
�Hmmm....saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya ?!�
�Ya Mas� kataku dengan senyuman.
Dalam hatiku, aku berpikir �Habislah sudah kesempatanku !�
Tapi setelah di dalam kamar, sekitar 2 jam kemudian aku yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Arif berdiri menunggu. Akupun cepat-cepat membuka pintu
�Wah..sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja� Mas Arif tiba-tiba permisi.
�Eee....nggak..nggak koq Mas, saya sudah bangun nih� kataku berusaha mencegah Mas Arif pergi.
�Gangguin tidur kamu nggak ?�
�Ndak...ndak kok, masuk aja� kataku mempersilahkan.
Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku,
�Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ?� Mas Arif bertanya.
�Ooo...itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya DHL, nggak jauh kok�
�Syaratnya gimana ?�
�Saya kurang tau juga tuh, Mas Arif pergi saja ke sana. temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Budi�
�Wah...kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja� Mas Arif sepertinya keberatan.
�Enggak....nggak... koq, perusa-haannya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu� kataku meya-kinkan Mas Arif.
�Hmmm...baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana ?�
�Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja� kataku me-nyarankan.
Mas Arif hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai.
*****************
Hari ini selasa, sesuai pre-diksiku, Mas Arif pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.
Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,
�Assalamu�alaikum� aku mem-beri salam.
�Wa�alaikumussalam� terdengar jawaban Mas Arif dari dalam kamarnya.
Lama baru pintu dibuka, dan Mas Arif mempersilahkanku un-tuk masuk. Kulihat di dalam ka-marnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan me-makai jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Nida tampak cantik sekali.
�Bagaimana Mas, tadi ?� ta-nyaku
�Oh...nanti saya disuruh ke sana lagi, besok untuk test wawancara�
�Alhamdulillah, tak do�ain supa-ya berhasil�
�Terima kasih�
Setelah berbasa - basi cukup lama, akupun permisi.
�Eehh...nanti dulu, kamu khan belum minum� Mas Arif berusaha mencegahku.
�Ayo Nida buatkan air minumnya dong� perintah Mas Arif me-nyuruh istrinya, Mbak Nida.
Aku menolak dengan halus,
�Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja koq, ada urusan�
�Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya�
Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Nida tidak jadi membuat minuman. Akupun pergi ke ka-marku, riang karena sebentar lagi �adikku� akan bersarang dan me-nemukan pasangannya.
*****************
Hari ini rabu, Mas Arif sudah berangkat dan meninggalkan Mbak Nida sendirian di kamarnya. Ren-cana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi Vcd pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling bagus, Vcd porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.
Kemudian sambil membawa bungkusan Vcd itu, aku menuju ke kamar tetanggaku, mengetuk pintu,
�Assalamu�alaikum� aku mem-beri salam.
Lama baru terdengar jawaban,
�Wa�alaikumussalam� jawaban Mbak Nida dari dalam kamar itu.
Pintunyapun terbuka, kulihat Mbak Nida melongokkan kepalanya yang berjilbab itu dari celah pintu,
�Ada apa ya ?� tanyanya.
�Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin tetapi lupa� kataku sambil menunjukkan bungkusan Vcd itu.
�Oh, baiklah� kata Mbak Nida sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.
�Eee...tunggu dulu Mbak, ini isinya Vcd, saya mau lihat apa bisa muter nggak di komputernya Mas Arif� kataku mengarang alasan.
Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Nida mempersi-lahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.
Di dalam kamar, aku menghi-dupkan komputer dan mengope-rasikan program Vcd playernya, lalu kumasukkan Vcd-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Vcd itu berjalan bagus.
�Mbak pingin nonton ?� tanyaku sambil melihat Mbak Nida yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.
�Film apa sih ?� tanya Mbak Nida kepadaku.
�Pokoknya bagus� jawabku sambil kemudian memberikan pe-tunjuk bagi Mbak Nida , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.
Mbak Nida hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mum-pung filmnya belum masuk ke bagian �intinya�.
Pintu kamar tetanggaku itupun kembali ditutup, aku bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Nida.
Setelah di kamarku. melalui ven-tilasi kulihat Mbak Nida menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.
Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Nida masih tetap menonton. Aku senang berarti Mbak Nida menyukainya.
Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari aku harapkan, tangan Mbak Nida pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.
�Hhh.....hhhh....oohhh.....oohhh�suara Mbak Nida mendesah�desah , tampaknya merasakan kenikmatan.
Aku kaget,
�Wah....hebat....dia masturbasi� kataku dalam hati.
Ingin aku masuk ke kamar Mbak Nida, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan memain-mainkan penisku.
Film di komputer itu terus berjalan...... hingga telah hampir 1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mbak Nida kulihat sudah empat kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Nida ternyata masih me-neruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.
�Akkkhhhhhhh.........� Mbak Nida terpekik pelan menandai orgasmenya.
Sesaat setelah orgasme Mbak Nida yang kelima akupun ejakulasi.
�Oooorghhhh.........� suara berat-ku mengiringi luapan sperma di tanganku.
Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Arif dan bisa memuaskan Mbak Nida nan-tinya karena bisa orgasme dan ejakulasi bersamaan.
Kemudian Mbak Nida sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Vcdnya dan mematikan komputer.
*****************
Setelah siang hari, Mas Arif baru pulang. Sedikit berdebar-debar aku menunggu perkem-bangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau - kalau Mbak Nida ngomong macam - macam soal Vcd itu, bisa berabe aku !
Tetapi lama.....kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali aku me-ngintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.
Begitu aku mulai mengintip, aku kaget ! Karena kulihat Mbak Nida dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Arif, mereka bersetubuh ! Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Mbak Nida kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Nida seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.
�Ah...Mas Arif nggak pandai merangsang sih�, pikirku.
Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, mem-buat Mbak Nida tidak bisa lagi men-capai orgasme dengan Mas Arif. Prediksiku, Mbak Nida akan sangat tergantung pada Vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara menghidupkan Vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesem-patanku.
*****************
Kamis, pukul 08.00. Aku bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin aku telah meng-intip Mbak Nida dan Mas Arif seharian, mereka kemarin ber-setubuh hanya dua kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Mbak Nida tidak bisa orgasme.
Malam kemarin aku juga sudah bersiap-siap dengan minum se-gelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermaku.
Pagi itu, setelah aku mandi, aku berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku, Mbak Nida yang sedang sendirian.
Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan,
�Assalamu�alaikum� aku mem-beri salam.
�Wa�alaikumussalam� suara lem-but Mbak Nida menyahut dari dalam kamar.
Mbak Nidapun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.
�Oh ya, saya lupa membe-ritahukan cara menghidupkan Vcd kemarin� kataku sambil tersenyum.
Tiba-tiba raut muka Mbak Nida menjadi sangat serius,
�Kamu kurang ajar ya, masa� ngasiin Vcd porno gituan ke Mbak� kata Mbak Nida sedikit keras.
Aku kaget, �ternyata ia marah�, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan,
�Oh ma�af Mbak, Vcdnya yang hadiah itu, isinya film soal riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, ma�af kalau tertukar, yah saya ambil saja lagi�
Mbak Nida masuk ke dalam kamarnya, ia tampak kecewa, aku senang berarti ia takut kehilangan Vcd itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka.
Mbak Nida kaget, melihatku mengikuti langkahnya,
�Eeeh...kamu kok ikut masuk juga ?!�
Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab,
�Alaa....Mbak jangan munafiklah, tokh Mbak juga menyukai Vcd porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala�
�Kurang ajar kamu ! Keluar ! Kalau tidak saya akan berteriak� bentak Mbak Nida.
�Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton Vcd itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Arif khan� kataku sambil merebut Vcd itu dan mematahkannya.
Mbak Nida terkejut,
�Kamu.....�
Tak sempat ia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya,
�Saya bersedia memberikan kepuasan kepada Mbak Nida, saya jamin Mbak Nida bisa orgasme bila main dengan saya�
�Kurang ajar ! Keluar kamu !�
�Eeee....tidak segampang itu, ayolah Mbak Nida jangan marah, pi-kirkan dulu, saya satu-satunya ke-sempatan, bila Mbak Nida tidak me-makai saya, seumur-umur Mbak Nida nggak akan pernah mencapai orgasme lagi� aku mulai meng-hasutnya.
Mbak Nida terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku, tapi...
�Tidak ! Kata Mbak tidaaak ! Sekarang keluar kamu !�
Aku gemetar, tapi tetap ber-usaha,
�Mbak sebaiknya pikirkan lagi, di sini cuma saya yang mengajukan diri memuaskan Mbak, saya satu-satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi !� kataku sedikit tegas.
Lama kulihat Mbak Nida terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah...
�Yah, sudahlah, jika Mbak tidak mau, saya pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat Mbak !� kataku sambil beranjak pergi.
Tetapi kulihat Mbak Nida hanya diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Nida, kulihat ia menangis,
�Mbak....jangan menangis, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti Mbak� kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.
Lalu pelan-pelan kupegang pun-dak Mbak Nida dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ter-nyata Mbak Nida hanya menurut saja, aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.
Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung jariku menuju ke tengah �lubang� birahinya. Aku sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali-kali.
�Akhhh.....akhhh.......ahhhhhh� desahan Mbak Nida mengiringi setiap tusukan jemariku.
Aku ingin membuatnya terang-sang dan mencapai orgasme. Lalu dengan cepat kutarik celana pan-jang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mbak Nida dengan merata. Akupun mengincar kelentit Mbak Nida yang tersembul ke luar dari bagian atas pepeknya.
Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku,
�Elmm.....mmmm.......emmmm� dan lidahku menari-nari di atasnya, terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali,
�Akhh....ooohhhh......aaahhhhh� suara Mbak Nida mendesah kuat tanda terangsang.
Jemari tanganku semakin kuper-cepat menusuk pepek Mbak Nida dan lidahku makin menggila menari-nari di atas kelentitnya yang berwarna merah jambu itu.
Perlahan kubimbing Mbak Nida mencapai puncaknya, hingga akhirnya......
�Aaaaaaakkkhhhhhh............� pekikan pelan Mbak Nida mengiringi orgasmenya.
Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan vagina Mbak Nida yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium bau khas cairan vagina wanita yang orgasme.
Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Nida mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat,
�Ahhh....ahhhh....yaah.....yaahh� suara Mbak Nida mulai meracau.
Sementara tangan kiriku beroperasi di vagina Mbak Nida, tangan kananku mulai meremas blus Mbak Nida, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Mbak Nida yang indah membukit.
Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas payudara Mbak Nida bergantian,
�Slurrpp....slrrrrpp.....slluuurpp� aku menghisap puting Mbak Nida, sementara desahan Mbak Nida terdengar halus di telingaku,
�Akhh....teruuss.....teruuusss� Sementara tangan kiriku tetap beraksi di vagina Mbak Nida, dan vagina itu semakin becek,
�Crrtt.....crrtt......slrrpp�
Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Nida yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Mbak Nida sedikit kaget,
�Ohhh....oomlmmm...elmmmm� Mbak Nida tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang menari-nari.
Aku memang berusaha mem-bimbing Mbak Nida agar orgasme untuk kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa me-masukkan penisku, mempenetrasi vaginanya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran penisku lebih besar dari punya Mas Arif yang biasa masuk.
Sambil mencium dan merang-sang pepek Mbak Nida, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melem-parkannya ke lantai. Tangan kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.
Lama akhirnya Mbak Nida mencapai orgasmenya yang kedua kali,
�Ooorrggghhhhh...........�
Mbak Nida mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung menusukkan penisku pelan-pelan ke dalam vaginanya.
�Aaaaaahhhhh............� suara Mbak Nida terpekik, matanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.
Akupun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mbak Nida dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan lama kelamaan men-jadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,
�Sllrrttt...cccrrttt....ccrrplpp� suara becek itu terus berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.
�Akhhh....yaaahh...terus...� suara desahan Mbak Nida keenakan. Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya ku-sandarkan di pundakku, pinggul Mbak Nida sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku ber-ulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Mbak Nida yang indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.
�Ahhh.....ahhh....aaahhh�
�Ohhh......ohhhh........hhhh�
Suara desahanku dan Mbak Nida terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.
Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Nida, badannya kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara penisku dan vaginanya masih menyatu.
Tanganku memegang pinggul Mbak Nida, membantunya badannya untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan segar yang ber-senggayut dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua. Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan menciumnya ber-gantian.
Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama.....
�Oooohhhhhhh.................� lenguhan panjang Mbak Nida menandai orgasmenya, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi.
Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Mbak Nida dan Mbak Nida juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman dengan mesra, oh indahnya.
Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Nida ternyata menangis !
�Kenapa Mbak Nida ? saya me-nyakiti Mbak ya ?!� tanyaku lembut penuh sesal.
Masih terisak, Mbak Nida menjawab,
�Ah.....nggak, kamu justru telah membuat Mbak bahagia�
Kami berdua tersenyum, ke-mudian pelan aku baringkan Mbak Nida. Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali.
Sambil meremas kedua payu-daranya, aku membolak-balikkan badan Mbak Nida ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,
�Ahhh.....ahhh....aaahhh�
�Ohhh......ohhhh........hhhh�
Terus....lama, hingga akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.
Aku ingin melakukannya ber-sama dengan Mbak Nida. Untuk itu aku memeluk Mbak Nida, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena perlahan Mbak Nida kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.
Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mbak Nida,
�Tahan......tahan.........Mbak, kita lakukan bersama-sama ya�
�Ohhh...ohhh....ohhhh.....aku su-dah tak tahan lagi� desah Mbak Nida, kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.
�Pelan.....pelan saja Mbak, kita lakukan serentak� kataku membisik sambil kupelankan tusukan penisku.
Akhirnya yang kuinginkan ter-jadi, urat-urat syarafku menegang, penisku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.
�Akhhh....ooohhh....ohhh� suara Mbak Nida mendesah. Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan penisku.
�Lepaskan.....lepaskan......Mbak, sekarang !� suaraku mengiringi de-sahan Mbak Nida, Mbak Nida menuruti �saranku�, diapun akhirnya mele-paskan orgasmenya,
�Aaaakkhhhhh............�
�Ooorggghhhhh.........� suara be-rat menandakan ejakulasiku, meng-iringi orgasme Mbak Nida. Erat ku-peluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu kulakukan.
Setelah �permainan� itu, dalam keadaan bugil aku tiduran ter-lentang di samping Mbak Nida yang juga telanjang. Mbak Nida me-melukku dan mencium pipiku berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku,
�Terima kasih Bud�
Mbak Nida kulihat senang dan memeluk tubuhku erat, tertidur di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Aku sedih dan me-nyesal melakukan ini dengan Mbak Nida, aku takut ia tidak akan pernah lagi mencapai orgasme selain de-ngan diriku, ini berarti aku me-nyengsarakan Mbak Nida.
Tampilkan postingan dengan label alat bantu sex pria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alat bantu sex pria. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Mei 2013
Cerita Dewasa Di Sore Hari
Label:
alat bantu sex,
alat bantu sex pria,
cerita dewasa,
cerita sex,
pembesar penis,
semenax kapsul,
sore hari,
vimax
Rabu, 08 Mei 2013
Vagina Getar Goyang Suara Alat Bantu Sex Pria
VAGINA GETAR GOYANG SUARA SILICON ELECTRIC
Produk VAGINA ini Terbuat dari bahan silicon pilihan yang lembut dan berkualitas sehingga tidak menimbulkan penyakit dan iritasi pada kulit. dapat di gunakan berulang-ulang dan di bersihkan dengan mudah.
UKURAN :
panjang : 30cm
diameter : 12cm
berat 1, 5kg.
megunakan batre AAA X4.
VAGINA dapat bergoyang, bergetar, bersuara rintihan dilengkapi dengan remot untuk mengatur frekensi sesuai kebutuhan.
Produk ini di ciptakan untuk mendapatkan sensasi yang lebih bagi para peria dewasa dalam bermain sendiri( onani) .
paket VAGINA di lengkapi sebotol pelicin sebagai cairan untuk vagina.
produk VAGINA ini sering juga di gunakan para peria yang tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan intim( sex) dengan pasanganya, untuk menghindari perselingkuhan. Menjaga keharmonisan pasutri.
dengan bentuk yang sedemikian bagus dan bergengsi ini produk dapat di gunakan sebagai hadiah ( kado) untuk teman anda
Hindarkan peminjaman produk untuk mencegah penyakit dan hal-hal yang tidak di inginkan
VAGINA GETAR GOYANG SUARA SILICON ELECTRIC
Negara Asal : JEPANG
Info pemesanan bisa hubungi: 081325664611 pin bb 29F7FDAE
anda bisa kunjungi http://www.agenalatbantu.com/
Produk VAGINA ini Terbuat dari bahan silicon pilihan yang lembut dan berkualitas sehingga tidak menimbulkan penyakit dan iritasi pada kulit. dapat di gunakan berulang-ulang dan di bersihkan dengan mudah.
UKURAN :
panjang : 30cm
diameter : 12cm
berat 1, 5kg.
megunakan batre AAA X4.
VAGINA dapat bergoyang, bergetar, bersuara rintihan dilengkapi dengan remot untuk mengatur frekensi sesuai kebutuhan.
Produk ini di ciptakan untuk mendapatkan sensasi yang lebih bagi para peria dewasa dalam bermain sendiri( onani) .
paket VAGINA di lengkapi sebotol pelicin sebagai cairan untuk vagina.
produk VAGINA ini sering juga di gunakan para peria yang tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan intim( sex) dengan pasanganya, untuk menghindari perselingkuhan. Menjaga keharmonisan pasutri.
dengan bentuk yang sedemikian bagus dan bergengsi ini produk dapat di gunakan sebagai hadiah ( kado) untuk teman anda
Hindarkan peminjaman produk untuk mencegah penyakit dan hal-hal yang tidak di inginkan
VAGINA GETAR GOYANG SUARA SILICON ELECTRIC
Negara Asal : JEPANG
Info pemesanan bisa hubungi: 081325664611 pin bb 29F7FDAE
anda bisa kunjungi http://www.agenalatbantu.com/
Cerita Sex - Asyiknya Bercinta Dengan Ayah Mertua
Nama aku Indah dan berumur 19 tahun. Sudah 1 tahun aku bernikah dengan seorang lelaki yang bernama Anang . Aku masih tidak dikurniakan dengan cahaya mata. Suamiku Anang ialah seorang ahli perniagaan. Dia sering outstation. Aku sering di rumah keseorangan. Bapa mertuaku sering mengunjungi rumahku. Kebiasaannya dia datang semasa suamiku di rumah.
Pada suatu petang Bapa mertuaku berkunjung semasa Anang pergi outstation. Bapa saja nak tengok kaulah Nab jawab bapa mertuaku ku. Selepas makan bapa mertuakuku berehat di hall. Sewaktu itu bapa mertuaku memakai kain sarong saja. Sambil berbual bual terselak kain bapa mertuaku aku. Aku ternampak anu bapa mertuaku ku. Bapa mertuaku buat tak tau saja. Anu bapa mertuaku nampaknya berada di dalam keadaan yang sungguh tegang. Itulah yang membuat ku tak dapat nak control nafsu. Lebih lebih lagi aku baru saja bersih dari darah bulan dan tak sempat didatangi oleh suami ku. Sungguh mendidih darah ku pada waktu itu.
Aku rasa anu bapa mertuaku tu jadi tegang sebab dia asyik perhatikan pakaian ku. Aku hanya mengenakan pakaian gown malam tanpa apa apa pun di dalam, maklumlah cuaca begitu panas. Saiz buah dadaku yang berukuran 36D sudah pasti telah mencuit hati bapa mertuaku. Patutlah semasa aku menghidangkan makanan, bapa mertuaku asyik merenungi lurah di gown ku.
Dengan tidak dapat menahan nafsu, aku terus menuju ke bilikku dan meninggalkan bapa mertuaku di hall untuk menonton berita jam lapan. Desakan nafsu ku yang meluap luap itu telah telah menyebabkan aku kelam kabut mengejar tilam untuk segera melayan denyutan kelentit ku. Setiba di dalam bilik, aku pun terus humbankan badan di katil dan aku selak gaun tidor ku hingga ke paras dada. Kesemua bahagian di bawah paras dada ku terdedah tanpa seurat benang.
Aku mengangkang seluas yang mungkin dan mulalah bermain dengan biji kelintit ku. Alangkah bahagianya kalau Anang mempunyai konek begitu besar seperti bapa mertuaku ku. Aku terus leka dibuai hayalan yang sebegitu rupa. Rupa rupanya pintu bilik ku tadi bukan saja tidak ku kunci malahan ianya ternganga luas. Tanpa ku sedari, bapa mertuaku aku telah mengekori jejak perjalanan ku ke dalam bilik. Ketika aku sedang leka melayani denyutan nafsu, dia dengan jelasnya dapat mengintai segala tingkah laku aku. 15 minit kemudian, aku terdengar suara bapa mertuaku ku memanggil manggil nama ku. Laungan tersebut telah menyekat kemaraan nafsu ku. Pantas aku mengalihkan pandangan ke arah pintu bilek. Berderau darah ku melihatkan bapa mertuaku ku sedang berdiri di situ. Sebatang tubuh lelaki tua yang berkulit hitam legam sedang bertelanjang bulat di situ.
Tangan kanannya sedang kemas mengenggam anunya yang sudah keras terpacak. Aku amat pasti bahawa lelaki itu ialah bapa mertuaku aku sendiri. Aku berkeadaan serba terkejut. Aku jadi kaku dan buntu dengan tanganku masih lagi melekat pada menjari kelentit ku. Pantas dia bertindak untuk meraih kesempatan terhadap kebinggungan ku itu. Dia terus menerpa dan mencelapak kangkangku yang sudah sedia terbuka luas.
Mulutnya pula telah berjaya menyusukan puting tetek ku. Tangan ku yang tadinya melindungi kangkang ku, kini segera beralih ke arah tetek ku untuk menyekat perbuatannya itu. Sebaik saja itu berlaku, anu bapa mertuaku aku pun mudahlah menyelinapkan zina ke dalam tubuh ku. Tangan ku cuba untuk menyekat kemaraan anunya. Namun tangan bapa mertuaku ku segera memantau pergerakkan tangan ku.
Akhirnya terpaksalah aku berbaring mengangkang sebegitu saja tanpa sebarang upaya untuk mempamirkan tentangan. Melihatkan keadaan ku yang sudah pasrah, maka dia pun mulalah menghenjut ku dengan rakus. Dari gelagat keganasannya itu, jelaslah bahawa selama ini dia memang geram terhadap kangkang aku. Bebanan dendam nafsunya bagaikan sulaan yang giat menghukumi tapak zuriat ku yang subur itu. Akal ku cuba agar tidak memperindahkan kesedapan anu bapa mertuaku aku tu. Namun nafsu ku sukar untuk menafikan keinginan terhadap anu bapa mertuaku ku.
Kehadirannya di dalam perut ku amat ketara ku rasakan. Malahan kesan penangan yang sebegitulah yang selama ini ku berahikan. Semakin lama semakin pasrah aku zahir dan batin. Seluruh jiwa raga ku mulai kecundang terhadap tuntutan zina yang maha sedap itu. Tanpa segan silu mulutku tak putus putus merengetkan bahasa nafsu. Pengakuan tentang kehebatan anu bapa mertuaku aku tu sentiasa meniti di bibirku. Hitungan dosa dan penyesalan telah ku humban jauh dari pertimbangan ku.
Bapa mertuaku aku pula sejak dari awal awal tadi begitu tekun membajak telaga bunting ku. Kesuburan ladang zuriat aku digemburi dengan sebaik mungkin. Jelaslah bahawa suami ku sendiri gagal menandingi kemampuan bapa mertuaku aku. Mungkin sebab itulah dia gagal menghamilkan aku. Setelah cukup rata membajak, maka bapa mertuaku aku pun mulalah menyemburkan benih zuriatnya ke dalam perut aku. Terbeliak biji mataku mengharungi kesedapan setiap pancutan yang dilakukannya.
Kepanasan cecair benih bapa mertuaku aku tu ku sambut dengan ledakan nafsu ku sendiri. Mengelupur seluruh tubuh ku untuk menikmati tadahan benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai di dalam rahim ku. Selepas itu kami sama sama terdampar keletihan setelah mengharungi kepuasan bersama. Bertelanjang bulat kami tidur berpelukan hingga ke pagi. Tengahhari esoknya sekali lagi bapa mertuaku ku menyemai benih yang mampu membuncitkan perut aku.
Kali ini dia menghenjut aku bagi tempoh yang lebih lama dari semalam. Malahan cecair benihnya juga adalah lebih lebat lagi. Hampir seminit aku terpaksa menadah perahan nafsunya. Ketika itulah juga talipon berdering. Aku tau ianya adalah panggilan dari suami ku. Namun kesedapan yang sedang ku nikmati itu telah mendesak aku supaya terus memerah saki baki air benih bapa mertuaku aku tu. Setelah pasti segalanya sudah kering, maka barulah aku bertindak untuk mencapai gagang talipon. Dengan bertelanjang bulat aku berkejar ke ruang tamu. Itu pun setelah lebih seminit ianya berdering. bapa mertuaku aku juga turut mengekori dari belakang dan dengan juga tanpa seurat benang.
Aku berdiri sambil berbual dengan suami ku. Ketika itu jugalah air mani bapa mertuaku aku mula meleleh membasahi peha ku. Lopak air mani yang terkumpul pada pangkal peha ku pula adalah lebih ketara. Saki baki kehangatannya juga masih lagi terasa. Baunya pula cukup kuat hinggakan aku yang sedang berdiri pun boleh menghidunya. Suami ku memberitahu bahawa dia akan terus ke Sarawak dan akan berada di sana selama sebulan setengah. Bapa mertuaku aku bukan main meleret senyumannya apabila dengarkan kabar tersebut.
Aku pula jadi serba salah kerana selama tempoh itu kelak aku akan bakal ditiduri oleh seorang lelaki tua yang hitam legam lagi tidak kacak. Memang pun selama tempoh tersebut bapa mertuaku aku tu telah kerjakan aku dengan secukup cukupnya. Malahan aku terbelenggu di bawah kongkongannya. Dia benar benar marah apabila aku meminta izin untuk ke klinik bagi mendapatkan pil pencegah kehamilan. Aku tergamam kerana bapa mertuaku aku memang berhasrat untuk membiarkan aku menanggung bunting melalui penzinaan kami itu.
Mulai saat itu, bapa mertuaku aku tidak lagi membenarkan aku keluar rumah. Kesangsiannya memang tepat. Jika berpeluang memang pasti aku akan ke klinik bagi tujuan yang bertentangan dengan kehendaknya. Untuk memastikan hajat aku tidak tercapai, bapa mertuaku aku telah merampas kesemua pakaian aku dan menyimpannya di dalam tempat yang terkunci rapi.
Ianya termasuklah kasut, setokin dan tuala. Oleh kerana tidak lagi memiliki sebarang pakaian, maka terpaksalah aku berbogel sehari suntuk. Bila selalu tubuh muda aku terpamir, maka selalulah anu tua nya tu keras menegang. Memang tak sempat kering bulu kangkang ku, kerapnya dia menyemai benih budak ke dalam perut aku.
Walaupun aku tidak rela menagggung akibatnya, namun aku mulai menagihi cetusan nikmat yang maha hebat itu. Akhirnya genap sebulan berlalu, dan bapa mertuaku aku tersenyum gembira sambil mengosok gosok perut ku. Beberapa bulan kemudian aku mulai muntah muntah. Tak lama selepas itu kesan membuncit di perut ku semakin ketara. Budak yang membesar di dalam perut ku itu adalah bukti penghasilan zina yang amat jelas.
Dari masa ke masa, terutama ketika suami ku kerja oustation, pasti bapa mertuaku ku datang menemani tidur ku. Semakin buncit perut aku, semakin bernafsu dia terhadap aku. Rupa rupanya dia memang jenis yang cenderung mendatangi wanita bunting. Memang masa tu aku kena penangan yang lebih teruk lagi dari sebelumnya. Kangkang aku pun sampai terasa sengal dan melecup dibuatnya.
Namun semakin teruk semakin gila kocakan nafsu ku sendiri. Sedang dia rancak menhenjut aku, dia sempat berjanji untuk berusaha memastikan aku bunting lagi selepas bersalin nanti. Masa tengah sedap tu aku bagaikan kerbau ditarik hidung saja. Aku mengangguk angguk kepala sebagai tanda menyetujuinya. Setelah agak lama merasai penangan yang sebegitu hebat, tentulah aku gagal puas dengan aksi suami ku sendiri.
Hanya kehadiran bapa mertuaku ku saja yang mampu menjanjikan kepuasan mutlak. Terutama jika ku di dalam keadaan berbadan dua. burit aku kini dipenuh benih nya. lubang burit ku kini luas namum bapak mertua tidak puas merodoknya. ni no ht aku xxx xxxxx (nombor betul aku) aku ingin bermain tiga batang pelir sekali, di jubur, burit dan mulut sekali.
Nama aku Indah dan berumur 18 tahun. Sudah 1 tahun aku bernikah dengan seorang lelaki yang bernama Anang. Aku masih tidak dikurniakan dengan cahaya mata. Suamiku Anang ialah seorang ahli perniagaan. Dia sering outstation. Aku sering di rumah keseorangan. Bapa mertuaku sering mengunjungi rumahku. Kebiasaannya dia datang semasa suamiku di rumah.
Pada suatu petang Bapa mertuaku berkunjung semasa Anang pergi outstation. Bapa saja nak tengok kaulah Nab jawab bapa mertuaku ku. Selepas makan bapa mertuakuku berehat di hall. Sewaktu itu bapa mertuaku memakai kain sarong saja. Sambil berbual bual terselak kain bapa mertuaku aku. Aku ternampak anu bapa mertuaku ku. Bapa mertuaku buat tak tau saja. Anu bapa mertuaku nampaknya berada di dalam keadaan yang sungguh tegang. Itulah yang membuat ku tak dapat nak control nafsu. Lebih lebih lagi aku baru saja bersih dari darah bulan dan tak sempat didatangi oleh suami ku. Sungguh mendidih darah ku pada waktu itu.
Aku rasa anu bapa mertuaku tu jadi tegang sebab dia asyik perhatikan pakaian ku. Aku hanya mengenakan pakaian gown malam tanpa apa apa pun di dalam, maklumlah cuaca begitu panas. Saiz buah dadaku yang berukuran 36D sudah pasti telah mencuit hati bapa mertuaku. Patutlah semasa aku menghidangkan makanan, bapa mertuaku asyik merenungi lurah di gown ku.
Dengan tidak dapat menahan nafsu, aku terus menuju ke bilikku dan meninggalkan bapa mertuaku di hall untuk menonton berita jam lapan. Desakan nafsu ku yang meluap luap itu telah telah menyebabkan aku kelam kabut mengejar tilam untuk segera melayan denyutan kelentit ku. Setiba di dalam bilik, aku pun terus humbankan badan di katil dan aku selak gaun tidor ku hingga ke paras dada. Kesemua bahagian di bawah paras dada ku terdedah tanpa seurat benang.
Aku mengangkang seluas yang mungkin dan mulalah bermain dengan biji kelintit ku. Alangkah bahagianya kalau Anang mempunyai konek begitu besar seperti bapa mertuaku ku. Aku terus leka dibuai hayalan yang sebegitu rupa. Rupa rupanya pintu bilik ku tadi bukan saja tidak ku kunci malahan ianya ternganga luas. Tanpa ku sedari, bapa mertuaku aku telah mengekori jejak perjalanan ku ke dalam bilik. Ketika aku sedang leka melayani denyutan nafsu, dia dengan jelasnya dapat mengintai segala tingkah laku aku. 15 minit kemudian, aku terdengar suara bapa mertuaku ku memanggil manggil nama ku. Laungan tersebut telah menyekat kemaraan nafsu ku. Pantas aku mengalihkan pandangan ke arah pintu bilek. Berderau darah ku melihatkan bapa mertuaku ku sedang berdiri di situ. Sebatang tubuh lelaki tua yang berkulit hitam legam sedang bertelanjang bulat di situ.
Tangan kanannya sedang kemas mengenggam anunya yang sudah keras terpacak. Aku amat pasti bahawa lelaki itu ialah bapa mertuaku aku sendiri. Aku berkeadaan serba terkejut. Aku jadi kaku dan buntu dengan tanganku masih lagi melekat pada menjari kelentit ku. Pantas dia bertindak untuk meraih kesempatan terhadap kebinggungan ku itu. Dia terus menerpa dan mencelapak kangkangku yang sudah sedia terbuka luas.
Mulutnya pula telah berjaya menyusukan puting tetek ku. Tangan ku yang tadinya melindungi kangkang ku, kini segera beralih ke arah tetek ku untuk menyekat perbuatannya itu. Sebaik saja itu berlaku, anu bapa mertuaku aku pun mudahlah menyelinapkan zina ke dalam tubuh ku. Tangan ku cuba untuk menyekat kemaraan anunya. Namun tangan bapa mertuaku ku segera memantau pergerakkan tangan ku.
Akhirnya terpaksalah aku berbaring mengangkang sebegitu saja tanpa sebarang upaya untuk mempamirkan tentangan. Melihatkan keadaan ku yang sudah pasrah, maka dia pun mulalah menghenjut ku dengan rakus. Dari gelagat keganasannya itu, jelaslah bahawa selama ini dia memang geram terhadap kangkang aku. Bebanan dendam nafsunya bagaikan sulaan yang giat menghukumi tapak zuriat ku yang subur itu. Akal ku cuba agar tidak memperindahkan kesedapan anu bapa mertuaku aku tu. Namun nafsu ku sukar untuk menafikan keinginan terhadap anu bapa mertuaku ku.
Kehadirannya di dalam perut ku amat ketara ku rasakan. Malahan kesan penangan yang sebegitulah yang selama ini ku berahikan. Semakin lama semakin pasrah aku zahir dan batin. Seluruh jiwa raga ku mulai kecundang terhadap tuntutan zina yang maha sedap itu. Tanpa segan silu mulutku tak putus putus merengetkan bahasa nafsu. Pengakuan tentang kehebatan anu bapa mertuaku aku tu sentiasa meniti di bibirku. Hitungan dosa dan penyesalan telah ku humban jauh dari pertimbangan ku.
Bapa mertuaku aku pula sejak dari awal awal tadi begitu tekun membajak telaga bunting ku. Kesuburan ladang zuriat aku digemburi dengan sebaik mungkin. Jelaslah bahawa suami ku sendiri gagal menandingi kemampuan bapa mertuaku aku. Mungkin sebab itulah dia gagal menghamilkan aku. Setelah cukup rata membajak, maka bapa mertuaku aku pun mulalah menyemburkan benih zuriatnya ke dalam perut aku. Terbeliak biji mataku mengharungi kesedapan setiap pancutan yang dilakukannya.
Kepanasan cecair benih bapa mertuaku aku tu ku sambut dengan ledakan nafsu ku sendiri. Mengelupur seluruh tubuh ku untuk menikmati tadahan benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai di dalam rahim ku. Selepas itu kami sama sama terdampar keletihan setelah mengharungi kepuasan bersama. Bertelanjang bulat kami tidur berpelukan hingga ke pagi. Tengahhari esoknya sekali lagi bapa mertuaku ku menyemai benih yang mampu membuncitkan perut aku.
Kali ini dia menghenjut aku bagi tempoh yang lebih lama dari semalam. Malahan cecair benihnya juga adalah lebih lebat lagi. Hampir seminit aku terpaksa menadah perahan nafsunya. Ketika itulah juga talipon berdering. Aku tau ianya adalah panggilan dari suami ku. Namun kesedapan yang sedang ku nikmati itu telah mendesak aku supaya terus memerah saki baki air benih bapa mertuaku aku tu. Setelah pasti segalanya sudah kering, maka barulah aku bertindak untuk mencapai gagang talipon. Dengan bertelanjang bulat aku berkejar ke ruang tamu. Itu pun setelah lebih seminit ianya berdering. bapa mertuaku aku juga turut mengekori dari belakang dan dengan juga tanpa seurat benang.
Aku berdiri sambil berbual dengan suami ku. Ketika itu jugalah air mani bapa mertuaku aku mula meleleh membasahi peha ku. Lopak air mani yang terkumpul pada pangkal peha ku pula adalah lebih ketara. Saki baki kehangatannya juga masih lagi terasa. Baunya pula cukup kuat hinggakan aku yang sedang berdiri pun boleh menghidunya. Suami ku memberitahu bahawa dia akan terus ke Sarawak dan akan berada di sana selama sebulan setengah. Bapa mertuaku aku bukan main meleret senyumannya apabila dengarkan kabar tersebut.
Aku pula jadi serba salah kerana selama tempoh itu kelak aku akan bakal ditiduri oleh seorang lelaki tua yang hitam legam lagi tidak kacak. Memang pun selama tempoh tersebut bapa mertuaku aku tu telah kerjakan aku dengan secukup cukupnya. Malahan aku terbelenggu di bawah kongkongannya. Dia benar benar marah apabila aku meminta izin untuk ke klinik bagi mendapatkan pil pencegah kehamilan. Aku tergamam kerana bapa mertuaku aku memang berhasrat untuk membiarkan aku menanggung bunting melalui penzinaan kami itu.
Mulai saat itu, bapa mertuaku aku tidak lagi membenarkan aku keluar rumah. Kesangsiannya memang tepat. Jika berpeluang memang pasti aku akan ke klinik bagi tujuan yang bertentangan dengan kehendaknya. Untuk memastikan hajat aku tidak tercapai, bapa mertuaku aku telah merampas kesemua pakaian aku dan menyimpannya di dalam tempat yang terkunci rapi.
Ianya termasuklah kasut, setokin dan tuala. Oleh kerana tidak lagi memiliki sebarang pakaian, maka terpaksalah aku berbogel sehari suntuk. Bila selalu tubuh muda aku terpamir, maka selalulah anu tua nya tu keras menegang. Memang tak sempat kering bulu kangkang ku, kerapnya dia menyemai benih budak ke dalam perut aku.
Walaupun aku tidak rela menagggung akibatnya, namun aku mulai menagihi cetusan nikmat yang maha hebat itu. Akhirnya genap sebulan berlalu, dan bapa mertuaku aku tersenyum gembira sambil mengosok gosok perut ku. Beberapa bulan kemudian aku mulai muntah muntah. Tak lama selepas itu kesan membuncit di perut ku semakin ketara. Budak yang membesar di dalam perut ku itu adalah bukti penghasilan zina yang amat jelas.
Dari masa ke masa, terutama ketika suami ku kerja oustation, pasti bapa mertuaku ku datang menemani tidur ku. Semakin buncit perut aku, semakin bernafsu dia terhadap aku. Rupa rupanya dia memang jenis yang cenderung mendatangi wanita bunting. Memang masa tu aku kena penangan yang lebih teruk lagi dari sebelumnya. Kangkang aku pun sampai terasa sengal dan melecup dibuatnya.
Namun semakin teruk semakin gila kocakan nafsu ku sendiri. Sedang dia rancak menhenjut aku, dia sempat berjanji untuk berusaha memastikan aku bunting lagi selepas bersalin nanti. Masa tengah sedap tu aku bagaikan kerbau ditarik hidung saja. Aku mengangguk angguk kepala sebagai tanda menyetujuinya. Setelah agak lama merasai penangan yang sebegitu hebat, tentulah aku gagal puas dengan aksi suami ku sendiri.
Hanya kehadiran bapa mertuaku ku saja yang mampu menjanjikan kepuasan mutlak. Terutama jika ku di dalam keadaan berbadan dua. burit aku kini dipenuh benih nya. lubang burit ku kini luas namum bapak mertua tidak puas merodoknya. ni no ht aku xxx xxxxx (nombor betul aku) aku ingin bermain tiga batang pelir sekali, di jubur, burit dan mulut sekali.
Pada suatu petang Bapa mertuaku berkunjung semasa Anang pergi outstation. Bapa saja nak tengok kaulah Nab jawab bapa mertuaku ku. Selepas makan bapa mertuakuku berehat di hall. Sewaktu itu bapa mertuaku memakai kain sarong saja. Sambil berbual bual terselak kain bapa mertuaku aku. Aku ternampak anu bapa mertuaku ku. Bapa mertuaku buat tak tau saja. Anu bapa mertuaku nampaknya berada di dalam keadaan yang sungguh tegang. Itulah yang membuat ku tak dapat nak control nafsu. Lebih lebih lagi aku baru saja bersih dari darah bulan dan tak sempat didatangi oleh suami ku. Sungguh mendidih darah ku pada waktu itu.
Aku rasa anu bapa mertuaku tu jadi tegang sebab dia asyik perhatikan pakaian ku. Aku hanya mengenakan pakaian gown malam tanpa apa apa pun di dalam, maklumlah cuaca begitu panas. Saiz buah dadaku yang berukuran 36D sudah pasti telah mencuit hati bapa mertuaku. Patutlah semasa aku menghidangkan makanan, bapa mertuaku asyik merenungi lurah di gown ku.
Dengan tidak dapat menahan nafsu, aku terus menuju ke bilikku dan meninggalkan bapa mertuaku di hall untuk menonton berita jam lapan. Desakan nafsu ku yang meluap luap itu telah telah menyebabkan aku kelam kabut mengejar tilam untuk segera melayan denyutan kelentit ku. Setiba di dalam bilik, aku pun terus humbankan badan di katil dan aku selak gaun tidor ku hingga ke paras dada. Kesemua bahagian di bawah paras dada ku terdedah tanpa seurat benang.
Aku mengangkang seluas yang mungkin dan mulalah bermain dengan biji kelintit ku. Alangkah bahagianya kalau Anang mempunyai konek begitu besar seperti bapa mertuaku ku. Aku terus leka dibuai hayalan yang sebegitu rupa. Rupa rupanya pintu bilik ku tadi bukan saja tidak ku kunci malahan ianya ternganga luas. Tanpa ku sedari, bapa mertuaku aku telah mengekori jejak perjalanan ku ke dalam bilik. Ketika aku sedang leka melayani denyutan nafsu, dia dengan jelasnya dapat mengintai segala tingkah laku aku. 15 minit kemudian, aku terdengar suara bapa mertuaku ku memanggil manggil nama ku. Laungan tersebut telah menyekat kemaraan nafsu ku. Pantas aku mengalihkan pandangan ke arah pintu bilek. Berderau darah ku melihatkan bapa mertuaku ku sedang berdiri di situ. Sebatang tubuh lelaki tua yang berkulit hitam legam sedang bertelanjang bulat di situ.
Tangan kanannya sedang kemas mengenggam anunya yang sudah keras terpacak. Aku amat pasti bahawa lelaki itu ialah bapa mertuaku aku sendiri. Aku berkeadaan serba terkejut. Aku jadi kaku dan buntu dengan tanganku masih lagi melekat pada menjari kelentit ku. Pantas dia bertindak untuk meraih kesempatan terhadap kebinggungan ku itu. Dia terus menerpa dan mencelapak kangkangku yang sudah sedia terbuka luas.
Mulutnya pula telah berjaya menyusukan puting tetek ku. Tangan ku yang tadinya melindungi kangkang ku, kini segera beralih ke arah tetek ku untuk menyekat perbuatannya itu. Sebaik saja itu berlaku, anu bapa mertuaku aku pun mudahlah menyelinapkan zina ke dalam tubuh ku. Tangan ku cuba untuk menyekat kemaraan anunya. Namun tangan bapa mertuaku ku segera memantau pergerakkan tangan ku.
Akhirnya terpaksalah aku berbaring mengangkang sebegitu saja tanpa sebarang upaya untuk mempamirkan tentangan. Melihatkan keadaan ku yang sudah pasrah, maka dia pun mulalah menghenjut ku dengan rakus. Dari gelagat keganasannya itu, jelaslah bahawa selama ini dia memang geram terhadap kangkang aku. Bebanan dendam nafsunya bagaikan sulaan yang giat menghukumi tapak zuriat ku yang subur itu. Akal ku cuba agar tidak memperindahkan kesedapan anu bapa mertuaku aku tu. Namun nafsu ku sukar untuk menafikan keinginan terhadap anu bapa mertuaku ku.
Kehadirannya di dalam perut ku amat ketara ku rasakan. Malahan kesan penangan yang sebegitulah yang selama ini ku berahikan. Semakin lama semakin pasrah aku zahir dan batin. Seluruh jiwa raga ku mulai kecundang terhadap tuntutan zina yang maha sedap itu. Tanpa segan silu mulutku tak putus putus merengetkan bahasa nafsu. Pengakuan tentang kehebatan anu bapa mertuaku aku tu sentiasa meniti di bibirku. Hitungan dosa dan penyesalan telah ku humban jauh dari pertimbangan ku.
Bapa mertuaku aku pula sejak dari awal awal tadi begitu tekun membajak telaga bunting ku. Kesuburan ladang zuriat aku digemburi dengan sebaik mungkin. Jelaslah bahawa suami ku sendiri gagal menandingi kemampuan bapa mertuaku aku. Mungkin sebab itulah dia gagal menghamilkan aku. Setelah cukup rata membajak, maka bapa mertuaku aku pun mulalah menyemburkan benih zuriatnya ke dalam perut aku. Terbeliak biji mataku mengharungi kesedapan setiap pancutan yang dilakukannya.
Kepanasan cecair benih bapa mertuaku aku tu ku sambut dengan ledakan nafsu ku sendiri. Mengelupur seluruh tubuh ku untuk menikmati tadahan benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai di dalam rahim ku. Selepas itu kami sama sama terdampar keletihan setelah mengharungi kepuasan bersama. Bertelanjang bulat kami tidur berpelukan hingga ke pagi. Tengahhari esoknya sekali lagi bapa mertuaku ku menyemai benih yang mampu membuncitkan perut aku.
Kali ini dia menghenjut aku bagi tempoh yang lebih lama dari semalam. Malahan cecair benihnya juga adalah lebih lebat lagi. Hampir seminit aku terpaksa menadah perahan nafsunya. Ketika itulah juga talipon berdering. Aku tau ianya adalah panggilan dari suami ku. Namun kesedapan yang sedang ku nikmati itu telah mendesak aku supaya terus memerah saki baki air benih bapa mertuaku aku tu. Setelah pasti segalanya sudah kering, maka barulah aku bertindak untuk mencapai gagang talipon. Dengan bertelanjang bulat aku berkejar ke ruang tamu. Itu pun setelah lebih seminit ianya berdering. bapa mertuaku aku juga turut mengekori dari belakang dan dengan juga tanpa seurat benang.
Aku berdiri sambil berbual dengan suami ku. Ketika itu jugalah air mani bapa mertuaku aku mula meleleh membasahi peha ku. Lopak air mani yang terkumpul pada pangkal peha ku pula adalah lebih ketara. Saki baki kehangatannya juga masih lagi terasa. Baunya pula cukup kuat hinggakan aku yang sedang berdiri pun boleh menghidunya. Suami ku memberitahu bahawa dia akan terus ke Sarawak dan akan berada di sana selama sebulan setengah. Bapa mertuaku aku bukan main meleret senyumannya apabila dengarkan kabar tersebut.
Aku pula jadi serba salah kerana selama tempoh itu kelak aku akan bakal ditiduri oleh seorang lelaki tua yang hitam legam lagi tidak kacak. Memang pun selama tempoh tersebut bapa mertuaku aku tu telah kerjakan aku dengan secukup cukupnya. Malahan aku terbelenggu di bawah kongkongannya. Dia benar benar marah apabila aku meminta izin untuk ke klinik bagi mendapatkan pil pencegah kehamilan. Aku tergamam kerana bapa mertuaku aku memang berhasrat untuk membiarkan aku menanggung bunting melalui penzinaan kami itu.
Mulai saat itu, bapa mertuaku aku tidak lagi membenarkan aku keluar rumah. Kesangsiannya memang tepat. Jika berpeluang memang pasti aku akan ke klinik bagi tujuan yang bertentangan dengan kehendaknya. Untuk memastikan hajat aku tidak tercapai, bapa mertuaku aku telah merampas kesemua pakaian aku dan menyimpannya di dalam tempat yang terkunci rapi.
Ianya termasuklah kasut, setokin dan tuala. Oleh kerana tidak lagi memiliki sebarang pakaian, maka terpaksalah aku berbogel sehari suntuk. Bila selalu tubuh muda aku terpamir, maka selalulah anu tua nya tu keras menegang. Memang tak sempat kering bulu kangkang ku, kerapnya dia menyemai benih budak ke dalam perut aku.
Walaupun aku tidak rela menagggung akibatnya, namun aku mulai menagihi cetusan nikmat yang maha hebat itu. Akhirnya genap sebulan berlalu, dan bapa mertuaku aku tersenyum gembira sambil mengosok gosok perut ku. Beberapa bulan kemudian aku mulai muntah muntah. Tak lama selepas itu kesan membuncit di perut ku semakin ketara. Budak yang membesar di dalam perut ku itu adalah bukti penghasilan zina yang amat jelas.
Dari masa ke masa, terutama ketika suami ku kerja oustation, pasti bapa mertuaku ku datang menemani tidur ku. Semakin buncit perut aku, semakin bernafsu dia terhadap aku. Rupa rupanya dia memang jenis yang cenderung mendatangi wanita bunting. Memang masa tu aku kena penangan yang lebih teruk lagi dari sebelumnya. Kangkang aku pun sampai terasa sengal dan melecup dibuatnya.
Namun semakin teruk semakin gila kocakan nafsu ku sendiri. Sedang dia rancak menhenjut aku, dia sempat berjanji untuk berusaha memastikan aku bunting lagi selepas bersalin nanti. Masa tengah sedap tu aku bagaikan kerbau ditarik hidung saja. Aku mengangguk angguk kepala sebagai tanda menyetujuinya. Setelah agak lama merasai penangan yang sebegitu hebat, tentulah aku gagal puas dengan aksi suami ku sendiri.
Hanya kehadiran bapa mertuaku ku saja yang mampu menjanjikan kepuasan mutlak. Terutama jika ku di dalam keadaan berbadan dua. burit aku kini dipenuh benih nya. lubang burit ku kini luas namum bapak mertua tidak puas merodoknya. ni no ht aku xxx xxxxx (nombor betul aku) aku ingin bermain tiga batang pelir sekali, di jubur, burit dan mulut sekali.
Nama aku Indah dan berumur 18 tahun. Sudah 1 tahun aku bernikah dengan seorang lelaki yang bernama Anang. Aku masih tidak dikurniakan dengan cahaya mata. Suamiku Anang ialah seorang ahli perniagaan. Dia sering outstation. Aku sering di rumah keseorangan. Bapa mertuaku sering mengunjungi rumahku. Kebiasaannya dia datang semasa suamiku di rumah.
Pada suatu petang Bapa mertuaku berkunjung semasa Anang pergi outstation. Bapa saja nak tengok kaulah Nab jawab bapa mertuaku ku. Selepas makan bapa mertuakuku berehat di hall. Sewaktu itu bapa mertuaku memakai kain sarong saja. Sambil berbual bual terselak kain bapa mertuaku aku. Aku ternampak anu bapa mertuaku ku. Bapa mertuaku buat tak tau saja. Anu bapa mertuaku nampaknya berada di dalam keadaan yang sungguh tegang. Itulah yang membuat ku tak dapat nak control nafsu. Lebih lebih lagi aku baru saja bersih dari darah bulan dan tak sempat didatangi oleh suami ku. Sungguh mendidih darah ku pada waktu itu.
Aku rasa anu bapa mertuaku tu jadi tegang sebab dia asyik perhatikan pakaian ku. Aku hanya mengenakan pakaian gown malam tanpa apa apa pun di dalam, maklumlah cuaca begitu panas. Saiz buah dadaku yang berukuran 36D sudah pasti telah mencuit hati bapa mertuaku. Patutlah semasa aku menghidangkan makanan, bapa mertuaku asyik merenungi lurah di gown ku.
Dengan tidak dapat menahan nafsu, aku terus menuju ke bilikku dan meninggalkan bapa mertuaku di hall untuk menonton berita jam lapan. Desakan nafsu ku yang meluap luap itu telah telah menyebabkan aku kelam kabut mengejar tilam untuk segera melayan denyutan kelentit ku. Setiba di dalam bilik, aku pun terus humbankan badan di katil dan aku selak gaun tidor ku hingga ke paras dada. Kesemua bahagian di bawah paras dada ku terdedah tanpa seurat benang.
Aku mengangkang seluas yang mungkin dan mulalah bermain dengan biji kelintit ku. Alangkah bahagianya kalau Anang mempunyai konek begitu besar seperti bapa mertuaku ku. Aku terus leka dibuai hayalan yang sebegitu rupa. Rupa rupanya pintu bilik ku tadi bukan saja tidak ku kunci malahan ianya ternganga luas. Tanpa ku sedari, bapa mertuaku aku telah mengekori jejak perjalanan ku ke dalam bilik. Ketika aku sedang leka melayani denyutan nafsu, dia dengan jelasnya dapat mengintai segala tingkah laku aku. 15 minit kemudian, aku terdengar suara bapa mertuaku ku memanggil manggil nama ku. Laungan tersebut telah menyekat kemaraan nafsu ku. Pantas aku mengalihkan pandangan ke arah pintu bilek. Berderau darah ku melihatkan bapa mertuaku ku sedang berdiri di situ. Sebatang tubuh lelaki tua yang berkulit hitam legam sedang bertelanjang bulat di situ.
Tangan kanannya sedang kemas mengenggam anunya yang sudah keras terpacak. Aku amat pasti bahawa lelaki itu ialah bapa mertuaku aku sendiri. Aku berkeadaan serba terkejut. Aku jadi kaku dan buntu dengan tanganku masih lagi melekat pada menjari kelentit ku. Pantas dia bertindak untuk meraih kesempatan terhadap kebinggungan ku itu. Dia terus menerpa dan mencelapak kangkangku yang sudah sedia terbuka luas.
Mulutnya pula telah berjaya menyusukan puting tetek ku. Tangan ku yang tadinya melindungi kangkang ku, kini segera beralih ke arah tetek ku untuk menyekat perbuatannya itu. Sebaik saja itu berlaku, anu bapa mertuaku aku pun mudahlah menyelinapkan zina ke dalam tubuh ku. Tangan ku cuba untuk menyekat kemaraan anunya. Namun tangan bapa mertuaku ku segera memantau pergerakkan tangan ku.
Akhirnya terpaksalah aku berbaring mengangkang sebegitu saja tanpa sebarang upaya untuk mempamirkan tentangan. Melihatkan keadaan ku yang sudah pasrah, maka dia pun mulalah menghenjut ku dengan rakus. Dari gelagat keganasannya itu, jelaslah bahawa selama ini dia memang geram terhadap kangkang aku. Bebanan dendam nafsunya bagaikan sulaan yang giat menghukumi tapak zuriat ku yang subur itu. Akal ku cuba agar tidak memperindahkan kesedapan anu bapa mertuaku aku tu. Namun nafsu ku sukar untuk menafikan keinginan terhadap anu bapa mertuaku ku.
Kehadirannya di dalam perut ku amat ketara ku rasakan. Malahan kesan penangan yang sebegitulah yang selama ini ku berahikan. Semakin lama semakin pasrah aku zahir dan batin. Seluruh jiwa raga ku mulai kecundang terhadap tuntutan zina yang maha sedap itu. Tanpa segan silu mulutku tak putus putus merengetkan bahasa nafsu. Pengakuan tentang kehebatan anu bapa mertuaku aku tu sentiasa meniti di bibirku. Hitungan dosa dan penyesalan telah ku humban jauh dari pertimbangan ku.
Bapa mertuaku aku pula sejak dari awal awal tadi begitu tekun membajak telaga bunting ku. Kesuburan ladang zuriat aku digemburi dengan sebaik mungkin. Jelaslah bahawa suami ku sendiri gagal menandingi kemampuan bapa mertuaku aku. Mungkin sebab itulah dia gagal menghamilkan aku. Setelah cukup rata membajak, maka bapa mertuaku aku pun mulalah menyemburkan benih zuriatnya ke dalam perut aku. Terbeliak biji mataku mengharungi kesedapan setiap pancutan yang dilakukannya.
Kepanasan cecair benih bapa mertuaku aku tu ku sambut dengan ledakan nafsu ku sendiri. Mengelupur seluruh tubuh ku untuk menikmati tadahan benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai di dalam rahim ku. Selepas itu kami sama sama terdampar keletihan setelah mengharungi kepuasan bersama. Bertelanjang bulat kami tidur berpelukan hingga ke pagi. Tengahhari esoknya sekali lagi bapa mertuaku ku menyemai benih yang mampu membuncitkan perut aku.
Kali ini dia menghenjut aku bagi tempoh yang lebih lama dari semalam. Malahan cecair benihnya juga adalah lebih lebat lagi. Hampir seminit aku terpaksa menadah perahan nafsunya. Ketika itulah juga talipon berdering. Aku tau ianya adalah panggilan dari suami ku. Namun kesedapan yang sedang ku nikmati itu telah mendesak aku supaya terus memerah saki baki air benih bapa mertuaku aku tu. Setelah pasti segalanya sudah kering, maka barulah aku bertindak untuk mencapai gagang talipon. Dengan bertelanjang bulat aku berkejar ke ruang tamu. Itu pun setelah lebih seminit ianya berdering. bapa mertuaku aku juga turut mengekori dari belakang dan dengan juga tanpa seurat benang.
Aku berdiri sambil berbual dengan suami ku. Ketika itu jugalah air mani bapa mertuaku aku mula meleleh membasahi peha ku. Lopak air mani yang terkumpul pada pangkal peha ku pula adalah lebih ketara. Saki baki kehangatannya juga masih lagi terasa. Baunya pula cukup kuat hinggakan aku yang sedang berdiri pun boleh menghidunya. Suami ku memberitahu bahawa dia akan terus ke Sarawak dan akan berada di sana selama sebulan setengah. Bapa mertuaku aku bukan main meleret senyumannya apabila dengarkan kabar tersebut.
Aku pula jadi serba salah kerana selama tempoh itu kelak aku akan bakal ditiduri oleh seorang lelaki tua yang hitam legam lagi tidak kacak. Memang pun selama tempoh tersebut bapa mertuaku aku tu telah kerjakan aku dengan secukup cukupnya. Malahan aku terbelenggu di bawah kongkongannya. Dia benar benar marah apabila aku meminta izin untuk ke klinik bagi mendapatkan pil pencegah kehamilan. Aku tergamam kerana bapa mertuaku aku memang berhasrat untuk membiarkan aku menanggung bunting melalui penzinaan kami itu.
Mulai saat itu, bapa mertuaku aku tidak lagi membenarkan aku keluar rumah. Kesangsiannya memang tepat. Jika berpeluang memang pasti aku akan ke klinik bagi tujuan yang bertentangan dengan kehendaknya. Untuk memastikan hajat aku tidak tercapai, bapa mertuaku aku telah merampas kesemua pakaian aku dan menyimpannya di dalam tempat yang terkunci rapi.
Ianya termasuklah kasut, setokin dan tuala. Oleh kerana tidak lagi memiliki sebarang pakaian, maka terpaksalah aku berbogel sehari suntuk. Bila selalu tubuh muda aku terpamir, maka selalulah anu tua nya tu keras menegang. Memang tak sempat kering bulu kangkang ku, kerapnya dia menyemai benih budak ke dalam perut aku.
Walaupun aku tidak rela menagggung akibatnya, namun aku mulai menagihi cetusan nikmat yang maha hebat itu. Akhirnya genap sebulan berlalu, dan bapa mertuaku aku tersenyum gembira sambil mengosok gosok perut ku. Beberapa bulan kemudian aku mulai muntah muntah. Tak lama selepas itu kesan membuncit di perut ku semakin ketara. Budak yang membesar di dalam perut ku itu adalah bukti penghasilan zina yang amat jelas.
Dari masa ke masa, terutama ketika suami ku kerja oustation, pasti bapa mertuaku ku datang menemani tidur ku. Semakin buncit perut aku, semakin bernafsu dia terhadap aku. Rupa rupanya dia memang jenis yang cenderung mendatangi wanita bunting. Memang masa tu aku kena penangan yang lebih teruk lagi dari sebelumnya. Kangkang aku pun sampai terasa sengal dan melecup dibuatnya.
Namun semakin teruk semakin gila kocakan nafsu ku sendiri. Sedang dia rancak menhenjut aku, dia sempat berjanji untuk berusaha memastikan aku bunting lagi selepas bersalin nanti. Masa tengah sedap tu aku bagaikan kerbau ditarik hidung saja. Aku mengangguk angguk kepala sebagai tanda menyetujuinya. Setelah agak lama merasai penangan yang sebegitu hebat, tentulah aku gagal puas dengan aksi suami ku sendiri.
Hanya kehadiran bapa mertuaku ku saja yang mampu menjanjikan kepuasan mutlak. Terutama jika ku di dalam keadaan berbadan dua. burit aku kini dipenuh benih nya. lubang burit ku kini luas namum bapak mertua tidak puas merodoknya. ni no ht aku xxx xxxxx (nombor betul aku) aku ingin bermain tiga batang pelir sekali, di jubur, burit dan mulut sekali.
Label:
alat bantu sex,
alat bantu sex pria,
berita sex,
cerita sex,
gairah sex,
perawat sex,
rumah mertua,
semenax canada,
vimax
Senin, 29 April 2013
Alat Bantu Sex Pria Unik Menyerupai Senter/Flashligh
Baby pussy fleshlight adalah vagina Senter silikon yang ada didalam tabung yang menyerupai senter yang digunakan sebagai alat bantu sex pria untuk bermasturbasi atau onani. Vagina silikon didalam tabung bisa dikeluarkan dan bisa dicuci bersih menggunakan air.
Ukuran :
Panjang : 23.5 cmDiameter : 9 cm
Pemesanan bisa anda hubungi call/sms ke: atau pin bbm
info lengkap bisa kunjungi website ini
Ukuran :
Panjang : 23.5 cmDiameter : 9 cm
Pemesanan bisa anda hubungi call/sms ke: atau pin bbm
info lengkap bisa kunjungi website ini
Langganan:
Postingan (Atom)



